Aset Tembus Rp560 Miliar, BPR BKK Kebumen Catat Laba Rp12,5 Miliar di Akhir 2025

PT BPR BKK Kebumen cetak laba Rp12,5 miliar di akhir 2025, tumbuh pesat dibanding tahun lalu. (Foto: Beritakebumen.com)

KEBUMEN, Beritakebumen.com – PT BPR BKK Kebumen menunjukkan performa finansial yang tangguh sepanjang tahun 2025.

Hingga pekan ketiga Desember, bank milik daerah ini sukses membukukan laba bersih sebesar Rp12,5 miliar.

Berita Lainnya

Angka ini mencatatkan kenaikan signifikan dibandingkan perolehan laba Desember tahun lalu yang berada di angka Rp10 miliar.

Direktur Utama BPR BKK Kebumen, Sutrisno, menjelaskan bahwa pertumbuhan positif ini terlihat jelas pada sisi aset perusahaan.

BACA JUGA: Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi, Begini Respon Pasar

Realisasi aset kini mencapai Rp560,845 miliar, melampaui target tahunan sebesar Rp556 miliar. Pertumbuhan aset secara organik ini tercatat meningkat Rp13 miliar jika dibandingkan dengan posisi pada tahun 2024.

“Pencapaian laba dan aset ini merupakan hasil dari pengelolaan keuangan yang profesional. Kami fokus meningkatkan kualitas kredit dan mengoptimalkan pelayanan bagi pelaku UMKM di Kebumen,” ujar Sutrisno, Senin, 22 Desember 2025.

Kepercayaan masyarakat terhadap BPR BKK Kebumen juga tercermin dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK). Realisasi simpanan masyarakat mencapai Rp486 miliar, meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp476,987 miliar.

Komposisi DPK tersebut didominasi oleh deposito senilai Rp367 miliar, sementara sisanya merupakan tabungan.

Guna memperluas jangkauan pasar, bank yang sahamnya dimiliki Pemkab Kebumen (51%) dan Pemprov Jateng (49%) ini meluncurkan produk inovatif, yaitu Kredit Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan Kredit Sobat Tani.

Kredit PMI telah terserap sebanyak Rp2,5 miliar, sedangkan Kredit Sobat Tani yang mendapatkan subsidi bunga dari Pemkab Kebumen mulai dimanfaatkan oleh para petani lokal.

BACA JUGA: OJK Cabut Izin Usaha Tiga Koperasi Lembaga Keuangan Mikro di Kebumen, Ini Daftarnya

Direktur Kepatuhan, Sudiharto, menambahkan bahwa penyaluran kredit perusahaan masih didominasi oleh sektor produktif. Sebanyak 70 persen modal disalurkan untuk UMKM, sementara 20 persen dialokasikan bagi pembiayaan rekanan jasa konstruksi.

Meski menghadapi persaingan perbankan yang semakin ketat, manajemen optimis dapat menjaga stabilitas kinerja.

“Kami mengandalkan loyalitas nasabah dan penerapan manajemen risiko yang ketat untuk memastikan tingkat NPL tetap terkendali,” tutup Sudiharto.

Berita terkait