KEBUMEN, Beritakebumen.com – Beberapa unggahan di Facebook oleh warga lokal baru-baru ini menyebutkan bahwa ular viper tanah, dikenal juga sebagai ular gibug atau ranjau darat, diklaim semakin sering dijumpai di wilayah Kebumen, Jawa Tengah.
Video amatir dan foto yang dibagikan dari lokasi seperti Desa Bejiruyung, Sidayu, Pekuncen dan beberapa kawasan hutan di Kebumen bagian utara menimbulkan rasa was-was di masyarakat, terutama karena ular ini dikenal sebagai salah satu spesies berbisa tinggi. Kejadian ini memicu pertanyaan besar: apakah betul populasi ular viper tanah di Kebumen sedang melonjak?
Mengenal Ular Viper Tanah dan Bahayanya
Ular yang dimaksud dalam unggahan viral tersebut dikenal secara ilmiah sebagai Calloselasma rhodostoma, salah satu jenis pit viper yang endemik di Asia Tenggara termasuk pulau Jawa. Spesies ini termasuk dalam keluarga Viperidae dengan sebaran di Thailand, Malaysia utara, Kamboja, Laos, Vietnam, dan di Indonesia.
Ciri khasnya adalah ukuran tubuh yang sedang, biasanya sekitar 76 cm, dan warna tubuh yang membantu berkamuflase di semak, tanah, atau dedaunan kering. Racun ular ini tergolong berbahaya secara medis, karena mengandung komponen yang bisa merusak jaringan dan sistem koagulasi darah.
BACA JUGA: Daftar Desa Mandiri dan Maju di Kecamatan Rowokele Kebumen Tahun 2025
Dalam satu unggahan yang tersebar di linimasa Facebook, disebutkan deskripsi ular ini: “Calloselasma rhodostoma…Status: High venom/berbisa tinggi…berbahaya bagi manusia…Suka berkamuflase,” dan ditambahkan pula peringatan hati-hati saat bertemu dengan spesies tersebut di habitatnya.
Pernyataan ini selaras dengan literatur zoologi yang menyatakan bahwa ular ini memang memiliki potensi bahaya serius bila terjadi gigitan.

Antara Fakta Ilmiah dan Persepsi Publik
Meskipun unggahan di media sosial oleh netizen memberi kesan “over populasi”, belum ada bukti ilmiah formal atau data riset lapangan yang menunjukkan bahwa jumlah ular viper tanah benar-benar meningkat secara signifikan di Kebumen pada tahun 2025. Klaim seperti “sudah sampai wilayah Kebumen” tidak otomatis berarti populasi ular melonjak, tetapi bisa menunjukkan peningkatan frekuensi temuan oleh manusia karena perubahan perilaku atau lingkungan, bukan jumlah ular yang bertambah drastis.
Sebagian pakar herpetologi menjelaskan bahwa ular pit viper tanah umum ditemukan di berbagai habitat seperti hutan, lahan pertanian yang jarang terpakai, dan semak yang rimbun— habitat yang umumnya juga sering dijumpai di Indonesia, seperti pedesaan di kota Kebumen.
BACA JUGA: Profil dan Biodata Sella Salsadila, Kiper Timnas Futsal Putri Asal Kebumen Peraih Perak SEA Games
Selain itu, faktor ekologis lain bisa memengaruhi persepsi “banyaknya ular” di suatu area. Misalnya, perburuan terhadap predator alami ular seperti kucing hutan (blacan), mongoose (garangan), biawak/menyawak, burung elang dan burung hantu dapat mengurangi tekanan predator terhadap ular.
Ketika predator lebih sedikit karena aktivitas perburuan atau konflik dengan manusia, populasinya bisa tampak lebih sering terlihat oleh warga. Ini bukan bukti peningkatan populasi biologis, tetapi sebuah dinamika ekologis kompleks yang sering tidak terlihat oleh pengamat awam.

Rekomendasi untuk Warga dan Petani
Berikut langkah yang dapat diambil masyarakat untuk mengatasi kekhawatiran ini secara logis dan aman:
- Jaga jarak dan waspada di area dengan semak tinggi, dedaunan kering, atau dekat perkebunan di mana ular sering bersembunyi.
- Gunakan alat pelindung seperti sarung tangan dan sepatu tinggi saat memasuki hutan, membersihkan lahan pekarangan dan makam, untuk mengurangi risiko gigitan.
- Laporkan kepada otoritas lokal atau komunitas konservasi jika menemukan ular, daripada menangani sendiri yang berisiko tinggi.
- Edukasi publik tentang perilaku ular dan habitatnya untuk menurunkan kecemasan berlebihan serta konflik manusia–ular.
Meskipun kewaspadaan itu perlu, klaim “populasi ular viper tanah di Kebumen meningkat” belum dibuktikan oleh data ilmiah atau survei resmi. Pemerhati satwa meminta masyarakat untuk tetap bijak memahami fenomena ini sebagai bagian dari interaksi manusia dan alam, bukan sekadar invasi ular yang tak terkendali.






