JAKARTA, Beritakebumen.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk bersiap menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi tiba lebih cepat dari biasanya.
Fenomena ini dipicu oleh berakhirnya fase La Nina pada Februari lalu, yang kini bergeser ke fase Netral dan berpotensi menuju El Nino pada pertengahan tahun.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa sekitar 46,5% wilayah Indonesia atau 325 Zona Musim (ZOM) akan mengawali masa kering ini lebih maju dari rerata klimatologinya.
BACA JUGA: Antisipasi Tsunami, BMKG Edukasi Warga Pesisir Kebumen Lewat Sekolah Lapang
Wilayah yang terdampak meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, hingga Papua.
Peralihan angin Monsun Australia menjadi penanda utama dimulainya periode ini, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
“Sifat kemarau tahun ini cenderung lebih kering atau di bawah normal pada 64,5% wilayah Indonesia,” ujar Faisal dalam konferensi pers di Jakarta, dalam siaran persnya.
Kondisi tersebut membuat durasi musim kemarau di sebagian besar daerah menjadi lebih panjang, sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla).
Menanggapi situasi ini, BMKG meminta sektor pertanian segera menyesuaikan jadwal tanam dengan varietas yang tahan kekeringan.
BACA JUGA: BMKG: Waspada Hujan dan Gelombang Tinggi di Jateng Selatan Saat Malam Tahun Baru
Selain itu, pemerintah daerah diharapkan melakukan revitalisasi waduk guna menjamin ketersediaan air bersih dan energi.
Peringatan dini ini menjadi dasar bagi para pemangku kepentingan untuk segera melakukan aksi nyata guna meminimalkan dampak buruk bencana kekeringan di tanah air.






