Gus Baha Ingatkan Cara Beragama yang Bahagia dan Rileks, Jangan Jadikan Takdir Sebagai Beban

Simak pesan sejuk Gus Baha tentang cara beragama yang bahagia dan rileks. Jangan jadikan takdir sebagai beban. (Foto: Istimewa)

Beritakebumen.com – KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang lebih dikenal sebagai Gus Baha, kembali memberikan perspektif segar mengenai cara beragama yang menenangkan.

Dalam ceramah yang diunggak di kanal Youtube inma channel, ulama kharismatik asal Rembang ini mengajak umat Islam untuk bersikap lebih rileks dan tidak kaku dalam memandang takdir.

Berita Lainnya

Menurutnya, esensi beragama adalah mencapai rasa puas dan bahagia kepada Allah SWT, bukan justru menciptakan beban emosional yang berat.

Menghargai Kehendak Allah yang Luas

Gus Baha menyoroti fenomena masyarakat yang sering kali menganggap takdir sebagai aturan mati yang membelenggu kekuasaan Tuhan.

BACA JUGA: Tips Bahagia ala Gus Baha, Rahasia Hidup Tenang dengan Menunggu Waktu Salat

Padahal, Allah memiliki sifat Yaf’alu ma yurid, yakni melakukan apa pun sesuai kehendak-Nya. Gus Baha menjelaskan bahwa doa dan kasih sayang Allah jauh melampaui catatan apa pun yang pernah tertulis.

“Nabi sangat memahami bahwa di akhirat pun, Allah tetap bisa diajak ‘bernegosiasi’ karena sifat-sifat kebaikan-Nya,” ungkap Gus Baha.
Pernyataan ini menjadi pengingat agar manusia tidak merasa putus asa terhadap ketetapan hidup, karena harapan selalu ada di tangan Sang Pencipta.

Ibadah Tanpa Tuntutan

Menariknya, Gus Baha juga memberikan sindiran halus bagi mereka yang rajin beribadah namun penuh dengan pamrih atau obsesi duniawi.
Ia mencontohkan fenomena orang yang rajin salat tahajud tetapi justru merasa kecewa ketika keinginannya tidak kunjung terkabul.

Bagi Gus Baha, menjaga hati dari prasangka buruk jauh lebih utama.

“Tidur bisa menjadi ibadah terbaik di akhir zaman jika tujuannya adalah menikmati rahmat Allah dan menjaga diri agar tidak menuntut Tuhan,” tambahnya.

BACA JUGA: Resmikan Masjid Al Hikmah Kalirejo, Bupati Kebumen Ajak Warga Teladani Manajemen Jogokariyan

Ulama sebagai Penyejuk Masyarakat

Dalam hal dakwah, Gus Baha menganalogikan peran ulama seperti seorang dokter. Sebagaimana Nabi Isa AS, seorang pendakwah seharusnya mendatangi mereka yang dianggap “sakit” secara spiritual untuk memberikan pengobatan, bukan malah menjauh dan menghakimi.

Gus Baha mendorong para ahli fikih untuk memberikan solusi praktis yang memudahkan urusan umat, terutama bagi masyarakat kecil di pedesaan.

Agama harus hadir sebagai oase yang memberikan rasa puas (ridho) dan ketenangan. Dengan kecukupan ilmu, seorang mukmin akan mampu menjalani hidup dengan lebih lapang dan penuh kegembiraan di tengah tekanan dunia.

Berita terkait