JAKARTA, Beritakebumen.com – Harga emas dunia kembali menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah. Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam pada Senin (22/12/2025) melonjak sebesar Rp 11.000 menjadi Rp 2.502.000 per gram.
Kenaikan ini kembali menembus rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH), seiring dengan harga emas global yang menyentuh ATH-nya Senin (22/12/2025) di level US$4.384,9 per troi ons.
Merujuk pantauan dari laman Logam Mulia, harga emas batangan Antam sebelumnya sempat naik Rp 8.000 ke level Rp 2.491.000 per gram pada Sabtu (20/12/2025) pekan lalu. Angka tersebut merupakan rekor tertinggi harga emas Antam sebelum kembali diperbarui awal pekan ini.
BACA JUGA: OJK Cabut Izin Usaha Tiga Koperasi Lembaga Keuangan Mikro di Kebumen, Ini Daftarnya
Kenaikan ini terjadi dalam beberapa hari terakhir dan langsung memicu reaksi berantai, bukan hanya di pasar global, tetapi juga di Indonesia. Dari pelaku pasar hingga warganet, respons yang muncul nyaris seragam: waswas, penasaran, dan takut ketinggalan.
Di pasar global, lonjakan harga emas bukan datang tanpa sebab. Ketegangan geopolitik yang belum mereda, perlambatan ekonomi di sejumlah negara besar, serta spekulasi arah kebijakan suku bunga bank sentral mendorong investor kembali mencari aset aman. Dalam situasi seperti ini, emas kembali menjadi tujuan utama pelarian modal.
Minat Beli Meningkat
Sementara itu, harga beli kembali (buyback) emas Antam pada Senin (22/12/2025), juga mengalami kenaikan sebesar Rp11.000 menjadi Rp2.361.000 per gram. Kondisi global tersebut cepat terasa di dalam negeri.
Harga emas batangan di Indonesia ikut melonjak dan mencatat level tertinggi baru. Di sejumlah gerai penjualan emas, minat beli meningkat. Transaksi daring pun ramai, terutama dari investor ritel yang selama ini menjadikan emas sebagai instrumen lindung nilai.
Bagi sebagian orang, lonjakan ini membawa keuntungan. Mereka yang membeli emas sejak harga masih rendah mulai menikmati kenaikan nilai asetnya. Namun bagi yang baru melirik emas belakangan, situasinya justru memicu kegelisahan. Rasa takut ketinggalan, atau yang populer disebut FOMO, muncul di berbagai percakapan media sosial.
BACA JUGA: Kebijakan Satu Pintu Kredit ASN Jadi Tantangan Penyaluran Kredit BPR BKK Kebumen
Di TikTok dan Instagram, konten seputar emas mendadak membanjiri linimasa. Ada yang memamerkan keuntungan, ada pula yang bertanya apakah masih aman membeli emas di harga setinggi ini. Fenomena ini menunjukkan bahwa emas bukan hanya instrumen investasi, tetapi juga cermin psikologi pasar.
Ekonom mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak euforia. Kenaikan harga emas memang sering terjadi saat ketidakpastian meningkat, tetapi membeli di harga puncak tetap memiliki risiko. Emas lebih tepat diposisikan sebagai pelindung nilai jangka panjang, bukan alat spekulasi jangka pendek.






