Karya Penyair Kebumen Pitra Suwita: Sajak Cinta 2, Cerminan Sunyi Penghujung Tahun

Sajak Cinta 2, Pitra Suwita Sajikan Refleksi Sunyi dan Pencarian Cinta Sejati di Antologi Bulan Menggantung.

KEBUMEN, Beritakebumen.com – Karya sastra mendalam kembali hadir dari penyair asal Kebumen, Pitra Suwita.

Melalui puisinya yang berjudul “Sajak Cinta 2”, Pitra Suwita merangkum sebuah perenungan sunyi tentang jejak kasih, harapan, dan tapal batas usia.

Berita Lainnya

Puisi ini merupakan bagian dari koleksi Antologi Bulan Menggantung dan ditulis di Kebumen pada 31 Desember 2010.

Karya ini menjadi sorotan karena kedalaman emosi yang disajikan, menggambarkan kontemplasi mendalam tentang arti cinta sejati.

Puisi “Sajak Cinta 2” dibuka dengan penggambaran proses penulisan jejak masa lalu menjadi sebuah sajak.

Penyair menggarisbawahi bagaimana kata demi kata yang terangkum indah, khususnya kata “Cinta”, pernah dipahat dalam relung hati yang paling dalam.

Bagian awal ini menyoroti harapan yang terus menyala di setiap “tikungan” kehidupan, selalu mencari sebuah tanda dan arah tujuan yang jelas.

BACA JUGA: Puisi “Sajak Cinta” Pitra Suwita, Bunga Cinta Bersemi dari Antologi Bulan Menggantung

Namun, suasana kemudian berubah total menjadi hening. Pitra Suwita melukiskan suasana senja yang sarat dengan kesunyian:

alangkah sunyi senja kala awan tak lagi jingga burung-burung kembali ke sarang

Penggunaan metafora “awan tak lagi jingga” secara ekspresif menandai hilangnya keceriaan atau momen keemasan, digantikan oleh kesendirian.

Meski dalam suasana sunyi, ingatan dan jejak masa lalu tetap dituliskan, digambarkan melalui diksi yang menyentuh, yakni “dengan linang air mata dan seulas senyum”.

Kontras emosi ini menunjukkan penerimaan atas kesedihan dan keindahan dari kenangan yang ada. Aroma wewangi bunga yang menjaring senja seolah mencoba menghentikan waktu, namun kesunyian rindu justru semakin mendominasi.

Pada bagian penutup, puisi ini membawa pembaca pada perenungan eksistensial mengenai waktu.

Dengan kalimat “tapal batas usia kian menepi”, penyair secara gamblang mengungkapkan rasa kehilangan dan kesamaran seiring bertambahnya usia.

Puisi ditutup dengan pertanyaan reflektif yang kuat, meninggalkan makna mendalam bagi pembaca:

samar tertulis ‘dimana kan ku tulis cinta sejati’

Berikut puisi lengkap Sajak Cinta 2 karya penyair Kebumen Pitra Suwita.

Sajak Cinta 2
(Buat M)

Setiap jejak itu
kau tulis menjadi
sajak
kata demi kata
terangkum indah
dulu pernah
kau pahat kata
Cinta
dalam relung hati paling dalam

berharap
di setiap tikungan
ada sebuah tanda
sambil menunjukkan arah tujuan

BACA JUGA: ‘Dari Alif Sampai Ya’, Puisi Lawas Pitra Suwita yang Tak Lekang oleh Waktu

alangkah sunyi
senja kala
awan tak lagi jingga
burung-burung
kembali ke sarang

masih kau tulis
jejakmu kemarin
dengan linang air mata
dan seulas senyum

kata demi kata
penuh cinta
aroma wewangi bunga
menjaring senja
menghentingkan awan
alangkah sunyi
rindu sendiri

tapal batas usia
kian menepi
semakin hilang
semakin sunyi
samar tertulis
‘dimana kan ku tulis cinta sejati’

Kebumen, 31 Desember 2010

“Sajak Cinta 2” yang ditulis di Kebumen pada penghujung tahun 2010 ini merupakan sebuah cerminan jujur dari perjalanan emosi manusia dalam mencari dan mendefinisikan cinta sejati di tengah kesendirian dan batasan waktu.

Karya Penyair Kebumen Pitra Suwita ini memperkaya khazanah Puisi Indonesia dan layak diapresiasi atas kedalamannya.

Berita terkait