KEBUMEN, Beritakebumen.com – “Bulan Menggantung” adalah sebuah puisi karya Pitra Suwita, penyair dari komunitas Sekolah Rakyat MeluBae (SRMB) Kebumen.
Puisi yang ditulis pada 23 November 2010 ini tidak hanya berdiri sendiri, tetapi juga diabadikan sebagai judul sebuah buku antologi puisi yang memuat kumpulan karya Pitra Suwita.
Buku antologi puisi “Bulan Menggantung” menghimpun 60 judul puisi yang ditulis Pitra Suwita antara tahun 2008 hingga 2011. Karya tersebut menjadi bukti perjalanan kreatifnya di dunia sastra.
Puisi “Bulan Menggantung” sendiri menawarkan sebuah lukisan batin yang dalam. Puisi ini menggambarkan kerinduan yang membeku, diilustrasikan bagai “bulan menggantung di ranting tak berdaun”.
BACA JUGA: Arti Kedutan di Kepala Menurut Primbon, Benarkah Pertanda Sakit atau Dicintai Orang Kaya?
Kata-kata yang digunakan penyair Kebumen ini menyuguhkan pencarian makna dan pertanyaan retoris tentang arah angin yang “menjemput pagi” dan “menghantar senja”.
Alur puisinya mengalir dengan kesan kontemplatif, sepi, namun tetap menyisipkan gambaran kehidupan seperti “anak-anak angin liar” dan “kicau burung di alam bebas”.
Puisi diakhiri dengan pertanyaan mendalam tentang diam yang mungkin tanpa makna, meninggalkan ruang interpretasi bagi pembacanya.
Berikut puisi Bulan Menggantung, karya dari penyair Kebumen, Pitra Suwita:
Bulan Menggantung
Seperti angin
hempaskan awan
Rindu membatu
bagai bulan menggantung
di ranting tak berdaun
Kemana lagi
kan mencari
di dasar jurang
tanpa batas
Anak-anak angin liar
bermain rimbun daun cemara
seirama kicau burung di alam bebas
Kemana angin
membawa awan?
ke timur
menjemput pagi
ke barat
menghantar senja
Kembali rinduku membatu
bagai bulan menggantung di ranting tanpa daun
Diam,
tanpa makna?
BACA JUGA: Catat! Ini Daftar Hari Penting Nasional dan Internasional di Bulan November 2025
Melalui puisi “Bulan Menggantung”, Pitra Suwita dari SRMB Kebumen memberikan sebuah mahakarya sastra yang penuh perenungan.
Karya ini tidak hanya memperkaya khazanah puisi Indonesia tetapi juga menunjukkan semangat berkesenian yang tumbuh dari komunitas akar rumput di Kebumen.
Puisi ini tetap abadi, mengundang setiap pembaca untuk meresapi setiap baris katanya.






