Menyingkap Misteri Watulawang: Situs Megalitikum, Tradisi Unik dan Jejak 10 Juta Tahun di Kebumen

Makam Berundak di Desa Watulawang, Kecamatan Pejagoan, Kebumen. (Foto: Istimewa)

PEJAGOAN, Beritakebumen.com – Desa Watulawang, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, menyimpan warisan budaya dan geologi yang langka.

Dijuluki “Jawa yang Hilang”, desa terpencil ini menjadi rumah bagi situs makam berundak kuno, tradisi pemindahan jenazah yang masih hidup, serta formasi batuan purba berusia jutaan tahun.

Berita Lainnya

Di tengah perbukitan Kebumen yang terisolasi, Watulawang menawarkan sebuah fragmen sejarah Jawa yang masih utuh.

Keunikan utamanya terletak pada Situs Makam Kuwu, sebuah kompleks pemakaman berundak peninggalan zaman prasejarah yang masih aktif digunakan hingga kini.

BACA JUGA: 2 Destinasi Wisata Malam Gratis di Kebumen, Cocok untuk Liburan Akhir Tahun yang Hemat

Situs ini mencerminkan hierarki sosial yang kental, di mana makam para sesepuh atau pemimpin desa menempati undakan tertinggi, sementara masyarakat biasa dimakamkan di bagian yang lebih rendah.

Yang lebih menakjubkan, masyarakat Watulawang secara turun-temurun masih mempraktikkan tradisi “nguras kubur” atau pemindahan tulang belulang jenazah.

Setelah beberapa tahun dikubur, tulang-tulang tersebut dipindahkan untuk disatukan dalam liang lahat keluarga besar.

Tradisi ini memiliki kemiripan dengan praktik di Toraja atau Trunyan, Bali, dan dianggap sebagai warisan langsung dari peradaban Jawa kuno.

“Di sini peradaban itu diwariskan, lestari, dan dijaga sampai saat ini. Sesuatu yang mungkin sudah punah di tempat lain, di Watulawang masih ada,” ujar Budayawan Kebumen, Ravie Ananda, seperti dikutip dari kanal YouTube Kebumen Update TV, Rabu, 24 Desember 2025.

Ritual adat juga mewarnai prosesi pemakaman. Para pengusung jenazah melaksanakan tugasnya dengan bertelanjang dada sebagai bentuk penghormatan sakral.

Ritual doa pun dilaksanakan dalam dua tahap. Yaitu doa adat Jawa yang dipimpin sesepuh, kemudian dilanjutkan dengan doa secara Islam.

Kehidupan masyarakat Watulawang juga menunjukkan kemandirian yang tinggi. Mereka berhasil bercocok tanam di medan berbatu vulkanik purba dengan sistem penampungan air yang unik.

Semangat swadaya ini juga terlihat dalam perawatan situs budaya, yang sering kali dilakukan secara gotong royong tanpa bergantung pada bantuan pemerintah.

BACA JUGA: Ini Daftar Lengkap Desa Mandiri dan Maju di Kecamatan Buayan Kebumen 2025

Warisan Geologi Jutaan Tahun

Nama “Watulawang” sendiri memiliki makna geologis yang nyata. Di desa ini terdapat formasi batuan breksi purba yang retak membentuk celah mirip pintu (lawang).

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Sumberdaya Geologi BRIN, Chusni Anshori, dalam video yang sama menjelaskan bahwa batuan ini merupakan hasil aktivitas vulkanik dahsyat sekitar 10 juta tahun lalu.

Kawasan ini merupakan bagian dari Geopark Kebumen, sebuah gerbang untuk mempelajari sejarah Bumi.

Kini, Desa Watulawang diusulkan untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata heritage berkelas internasional.

Konsep pengembangannya bukan dengan membangun wahana modern, melainkan dengan menjaga keaslian budaya dan keajaiban alamnya yang langka.

Bagi para pencari jejak “Jawa Sejati” yang penuh misteri dan kedalaman sejarah, Watulawang menawarkan pengalaman yang tak terlupakan.

Berita terkait