KEBUMEN, Beritakebumen.com – Karya sastra selalu menjadi jendela ekspresi terdalam dan kali ini, Pitra Suwita, seorang penyair berbakat asal Kebumen, kembali menyuguhkan keindahan rasa melalui puisinya yang berjudul “Sajak Cinta”.
Puisi ini menjadi bagian penting dari buku Antologi Puisi Bulan Menggantung, dan menawarkan narasi puitis yang mendalam tentang pencarian dan pertemuan asmara.
Puisi “Sajak Cinta” ditulis oleh Pitra Suwita di Kebumen pada 18 September 2010. Dalam sajak ini, Pitra Suwita secara ekspresif menggambarkan jalinan romansa yang penuh gejolak menggunakan metafora alam, terutama laut dan langit.
Bait-baitnya mengisahkan sosok “Pangeran Laut” yang gigih, “berselanjar dengan angin” dan “menghempas ombak” dalam pencarian “sang Putri”.
BACA JUGA: ‘Dari Alif Sampai Ya’, Puisi Lawas Pitra Suwita yang Tak Lekang oleh Waktu
Perjuangan sang Pangeran Laut di tengah samudra luas dan badai, diibaratkan sebagai pencarian cinta yang tak kenal lelah, bahkan saat “hilang arah tanpa bintang-bintang”.
Klimaks emosional tercipta pada bagian sambutan, di mana “Gamelan bertalu-talu, irama merdu” menyambut kembalinya sang pujaan hati.
Puncak keindahan puisi ini terangkum dalam larik, “Bunga cinta bersemi / kala matahari panas membakar”, yang menyiratkan bahwa cinta sejati tetap tumbuh subur meskipun di tengah tantangan yang terik.
Namun, Pitra Suwita mengakhiri puisinya dengan nada yang menggantung dan romantis, menyampaikan hasrat abadi melalui larik: “+ ku tunggu engkau di tengah samudra luas / biar cinta tak bermuara.”
Sajak ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah refleksi tentang harapan, pencarian, dan keabadian cinta yang terangkum dalam warisan sastra penyair Kebumen.
Berikut puisi Sajak Cinta, karya Pitra Suwita, penyair asal Kebumen:
Sajak Cinta
(Pangeran Laut dan Putri Awan)
Pangeran Laut
berselanjar dengan angin
menghempas ombak, mencari sang Putri
+ Pangeran laut tlah kembali,
setelah mengharu biru kan jiwaku
Pangeran laut menuntun ombak, membelai angin,
menerjang karang
menuntun para nakoda ke peraduan
hilang arah tanpa bintang-bintang
+ Pangeran laut tlah kembali bersama awan jingga
matahari merah tersapu kabut
Gamelan bertalu-talu, irama merdu
menyambut sang pujaan hati
Pangeran laut
menjemput mimpi yang berlalu
Bunga cinta bersemi
kala matahari panas membakar.
+ ku tunggu engkau di tengah samudra luas
biar cinta tak bermuara.
Kebumen, 18.09.10.
BACA JUGA: Mengenal “Bulan Menggantung”, Puisi Karya Penyair Kebumen Pitra Suwita
Karya “Sajak Cinta” ini memperkaya khazanah puisi Indonesia dan membuktikan kontribusi signifikan Penyair Kebumen, Pitra Suwita, dalam ranah sastra.
Puisi yang penuh metafora ini layak dinikmati oleh para penikmat sastra dan puisi yang mencari kedalaman makna dalam untaian kata tentang cinta.






