Prinsip Hidup ‘Secukupnya’ ala Soleh Solihun: Tak Perlu Ambisius Demi Kejar Ketenangan

Soleh Solihun pilih hidup santai di tengah hustle culture. Prinsip 'secukupnya' demi ketenangan jiwa dan keluarga. (Foto: Youtube Rintik Obrolan)

BERITAKEBUMEN.COM – Komedian Soleh Solihun memilih jalan berbeda di tengah budaya kerja keras tanpa henti atau hustle culture.

Ia mengaku tidak ambisius dan lebih menyukai ritme santai demi menjaga kesehatan mental serta kebahagiaan keluarga.

Berita Lainnya

Dalam kanal YouTube Rintik Obrolan, Soleh berbagi alasan di balik sikap hidupnya yang adem ayam. Baginya, hidup adalah keseimbangan dan rasa syukur, bukan sekadar menumpuk materi.

Memilih Santai di Tengah Tekanan Dunia

Soleh mengungkapkan keputusannya tidak “ngoyo” berakar dari pengalaman tujuh tahun menjadi karyawan kantor. Waktu dan energinya terkuras dengan penghasilan yang tak sebanding tingkat stres.

“Gua tidak mau bekerja terlalu keras karena semua ini akan berakhir. Hidup ini hanya sementara, jadi mending dinikmati sekarang,” ujar Soleh.

Ia meyakini rezeki sudah diatur Sang Pencipta. Jika dalam sebulan sudah mendapat dua pekerjaan yang cukup untuk kebutuhan keluarga, ia tak perlu memburu proyek tambahan hanya karena gengsi.

BACA JUGA: Tak Ikuti Hustle Culture, Soleh Solihun Justru Bahagia dengan Rutinitas Antar Jemput Anak

Ketakutan Terbesar yang Spiritual

Stres yang dirasakan Soleh bukan datang dari kekurangan uang atau kegagalan karier. Ia justru terganggu secara spiritual saat memikirkan fase setelah mati, seperti Padang Mahsyar dan siksa kubur.

“Gua sering stres kalau mikirin Padang Mahsyar. Urusan duniawi mah gua nggak terlalu khawatir, tapi apakah setelah dunia ini berakhir gua akan baik-baik saja? Itu yang mengganggu tidur gua,” akunya.

Warisan Prinsip untuk Anak-Anak

Sebagai ayah, Soleh menerapkan pengasuhan hangat dan penuh pelukan. Ia memberi kebebasan bergaul, tapi memegang teguh dua pesan orang tua: jangan tinggalkan salat dan jauhi narkotika serta minuman keras.

“Gua cuma pengin anak gua bangga dan bisa bilang mereka telah dididik dengan baik. Gua pengin warisan gua ke mereka adalah prinsip hidup yang kuat,” tuturnya.

Kisah Soleh mengingatkan bahwa kesuksesan tak selalu diukur dari kesibukan atau jabatan. Ketenangan pikiran, waktu bersama keluarga, dan rasa syukur justru menjadi kunci kebahagiaan yang lebih substansial.

Berita terkait