Tenun Kebumen Tembus Pasar Afrika, Omzet Capai Rp200 Juta Per Bulan

Tenun Kebumen tembus pasar Afrika! Kartinesia Jaya raih omzet Rp200 juta per bulan. Simak kisah UMKM lokal yang go internasional. (Foto: Berita Kebumen)

SADANG, Beritakebumen.com – Di tengah gempuran mode modern, usaha tenun tradisional di Kabupaten Kebumen justru menunjukkan taringnya.
Kartinesia Jaya, milik Nanang Setiawan dari Desa Seboro, Kecamatan Sadang, berhasil menembus pasar internasional.

Nanang merintis usaha ini pada 2018 saat masih tinggal di Jepara. Namun rasa cinta pada kampung halaman mendorongnya pulang ke Kebumen. Pada 2019, ia mulai memproduksi tenun secara serius.

Berita Lainnya

Kartinesia Jaya menggunakan alat tenun bukan mesin atau ATBM. Cara ini mempertahankan kualitas kain sekaligus nilai tradisional.

Produk yang dihasilkan beragam, mulai dari sarung goyor, sarung lengket, hingga kain katun mercerize. Motifnya khas Kebumen, seperti walet, pegunungan, dan lautan.

Untuk produk grade A, harga dipatok Rp350 ribu. Sedangkan grade B dibanderol Rp250 ribu.

BACA JUGA: Angkat Tenun Seboro, Brand Fashion Muslim Asal Kebumen Tembus Pasar Internasional

Dalam setiap proses produksi, Kartinesia Jaya melibatkan sekitar 80 tenaga kerja dari beberapa desa di Kecamatan Sadang. Setiap hari, pabrik kecil ini mampu menghasilkan hingga 50 potong kain.

Tidak hanya laris di dalam negeri, tenun Kebumen ini juga telah diekspor ke Somalia, Afrika. Dalam sebulan, Kartinesia Jaya mengirimkan barang dua kali dengan omzet Rp150 hingga Rp200 juta.

Kesuksesan ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kebumen memberikan bantuan alat produksi untuk memperkuat kapasitas usaha.

Kartinesia Jaya membuktikan bahwa UMKM lokal mampu bersaing dan berkembang hingga ke pasar global, tanpa meninggalkan akar tradisi.

Berita terkait