Beritakebumen.com – Menjelang sepuluh hari terakhir Ramadan, umat Islam kian antusias mengejar keutamaan Lailatul Qadar.
Ustadz Abdul Somad (UAS) mengupas tuntas rahasia di balik kemuliaan malam Lailatul Qadar dalam ceramahnya yang bertajuk Nuzulul Quran.
Pendakwah yang akrab disapa UAS ini menjelaskan mengapa Allah SWT merahasiakan waktu pasti datangnya malam yang lebih baik dari seribu bulan tersebut.
Menurut UAS, Allah sengaja tidak menyebutkan secara jelas kapan Lailatul Qadar terjadi. Kerahasiaan ini menjadi motivasi bagi umat Islam untuk terus meningkatkan ibadah sepanjang bulan Ramadan, bukan hanya pada malam tertentu.
BACA JUGA: Shinta Nuriyah di Kebumen: Ajak Puasa Revolusioner, Bukan Sekadar Lapar dan Dahaga
“Andai Allah menyebut Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21, masjid akan penuh hanya di malam itu. Setelahnya sepi. Allah merahasiakannya agar kita selalu khawatir tidak mendapatkannya dan terus berharap bisa meraihnya,” papar UAS dalam unggahan Youtube Ustadz Abdul Somad Official.
Meski terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai tanggal pastinya, UAS menekankan esensi utama tetap sama: umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah di malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan.
Yang menarik, UAS memaparkan indikator meraih Lailatul Qadar tidak melulu soal fenomena alam. Tanda paling nyata justru terlihat dari perubahan perilaku seseorang setelah Ramadan usai.
“Ciri utama orang mendapatkan Lailatul Qadar, haji mabrur, atau taubat nasuha adalah perubahan menuju kebaikan. Yang tadinya pelit jadi dermawan, yang keras hati jadi lembut. Di situlah tanda ibadah diterima Allah,” jelasnya.
Di sela ceramah, UAS juga mengingatkan pentingnya pengurusan legalitas tanah wakaf. Para pengurus masjid dan pesantren diminta segera mengurus Akta Ikrar Wakaf melalui KUA dan mendaftarkannya ke Badan Pertanahan Nasional. Langkah ini mencegah sengketa di kemudian hari.
BACA JUGA: Resmi! Cek Besaran Zakat Fitrah dan Fidyah Kabupaten Kebumen 2026, Ini Rinciannya
“Harta yang dimakan akan busuk, yang dipakai akan lapuk. Tapi harta yang diwakafkan akan kekal abadi menjadi amal jariyah,” pesan UAS tegas.
Ceramah ditutup dengan pembahasan Al-Qur’an sebagai mukjizat abadi yang terjaga kemurniannya.
UAS berharap semakin banyak generasi muda penghafal Al-Qur’an yang mengisi posisi strategis di pemerintahan, TNI, dan Polri. Dengan demikian nilai-nilai Al-Qur’an dapat diterapkan dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.






