Shinta Nuriyah di Kebumen: Ajak Puasa Revolusioner, Bukan Sekadar Lapar dan Dahaga

Shinta Nuriyah Wahid di Ponpes Al Falah Sumberadi, Kebumen ajak masyarakat jalani puasa revolusioner yang mampu ubah perilaku. (Foto: Beritakebumen.com)

KEBUMEN, Beritakebumen.com – Bulan Ramadan selalu menghadirkan beragam cara untuk meraih keberkahan.

Namun, di Pondok Pesantren Al Falah Sumberadi, Kebumen, suasana buka bersama pada Jumat, 6 Maret 2026 petang berubah menjadi renungan mendalam tentang makna ibadah puasa.

Berita Lainnya

Shinta Nuriyah Abdurrohman Wahid, istri almarhum Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, hadir dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk merenungkan esensi puasa yang revolusioner.

Acara yang berlangsung khidmat itu turut dihadiri oleh Pendiri Ponpes Hj Siti Sakhiyah Asna Furaida, Pengasuh KH Muhammad Faiq Muflihin, serta Direktur Yayasan Pendidikan Al Falah, KH Muhammad Zulvian Ikfina (Gus Ulfi).

BACA JUGA: Kemenag Siapkan Empat Masjid Ramah Pemudik di Jalur Utama Kebumen, Ini Daftarnya

Kehadiran para tokoh lintas agama, mulai dari Kristen, Katolik, Buddha, Konghucu, hingga penghayat kepercayaan, menjadi pemandangan yang menghangatkan. Mereka duduk berdampingan, mencerminkan wajah Indonesia yang majemuk.

Pengalaman 26 Tahun Bersahur di Kolong Jembatan

Dalam ceramahnya yang cair dan penuh interaksi, Shinta Nuriyah berbagi pengalaman pribadinya selama 26 tahun mendampingi Gus Dur.

Ia mengaku lebih memilih menggelar sahur bersama daripada buka puasa. Bukan tanpa alasan, ibu lima anak ini ingin menghadirkan keberkahan Ramadhan hingga ke sudut-sudut kota yang selama ini terpinggirkan.

“Biasanya saya bersahur dengan kuli bangunan di kolong jembatan, dengan mbok-mbok bakul di tengah pasar, atau dengan tukang becak di dekat terminal. Saya datang ke tempat mereka berada, bukan mengundang mereka ke tempat saya,” tuturnya.

Pengalaman panjang itu mengajarkannya bahwa esensi berbagi di bulan suci tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang konvensional. Justru dengan mendatangi langsung kaum duafa dan marginal, pesan kebersamaan dan kepedulian sosial terasa lebih membumi.

BACA JUGA: PT GMDP Resmikan Masjid Al Barokah Senilai Rp800 Juta, Hadiah Ramadan untuk Warga Kalijirek

Kritik Sosial di Balik Tradisi Buka Bersama

Di hadapan ratusan santri dan tokoh masyarakat, Shinta Nuriyah melontarkan pertanyaan reflektif. Mengapa ia memilih bersahur, bukan berbuka?

Menurutnya, fenomena buka bersama saat ini kerap kehilangan ruh. Banyak acara serupa yang diselenggarakan di hotel-hotel berbintang hingga rumah-rumah mewah, namun tak jarang justru dihadiri oleh mereka yang tidak menjalankan ibadah puasa.

“Apakah tujuannya benar-benar mencari ridha Allah, atau sekadar mencari tambahan suara dan popularitas? Saya tidak ingin seperti itu. Saya tidak butuh suara,” katanya tegas, disambut tawa sekaligus tepuk tangan hadirin.

Pernyataan ini menjadi kritik sosial yang halus namun tajam terhadap maraknya acara seremonial Ramadhan yang kehilangan substansi.
Shinta mengajak semua pihak untuk kembali pada tujuan utama puasa, yaitu membentuk manusia bertakwa.

Indonesia yang Majemuk Adalah Keluarga Besar

Momen istimewa terjadi ketika Shinta Nuriyah mengajak para hadirin untuk saling mengenal latar belakang suku dan agama. Satu per satu peserta angkat tangan menyebut asal daerahnya, mulai dari Jawa, Madura, Sunda, Makassar, hingga Ambon.

Keragaman agama pun terlihat jelas, dengan hadirnya pemeluk Islam, Katolik, Protestan, Buddha, Konghucu, hingga penghayat kepercayaan.

“Inilah bentuk masyarakat Indonesia yang sebenarnya. Beragam suku, agama, budaya, dan bahasa. Tapi mereka semua adalah saudara saya sebangsa dan setanah air. Justru di tengah keberagaman inilah kita harus tetap bersatu,” pesannya.

Puasa yang Mengubah Perilaku

Inti dari renungan yang disampaikan Shinta Nuriyah adalah ajakan untuk menjalankan puasa yang revolusioner. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi puasa yang mampu mengubah perilaku dan akhlak seseorang.

BACA JUGA: Resmi! Cek Besaran Zakat Fitrah dan Fidyah Kabupaten Kebumen 2026, Ini Rinciannya

“Banyak orang berpuasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Puasa yang hakiki adalah yang bisa merubah pelakunya menjadi lebih baik. Jika biasa korupsi, harus berhenti. Jika suka menipu atau menghujat, harus berhenti. Itulah puasa yang revolusioner,” tegasnya.

Ia mengajak seluruh umat untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum peningkatan kualitas diri, agar setiap tahun ketakwaan yang diraih semakin sempurna.

Menjelang waktu Maghrib, Shinta Nuriyah menutup pertemuan dengan cara khas almarhum Gus Dur.

Ia mengajak semua hadirin melantunkan syair munajat Abu Nawas, seorang tokoh sufi yang dikenal cerdas dan humoris. Dua bait syair itu menjadi doa bersama, memohon petunjuk agar tidak tersesat dalam menjalani kehidupan.

Berita terkait