Maudy Ayunda Ungkap Bahaya Pola Asuh Berbasis Layar bagi Kesehatan Mental Anak

Krisis kesehatan mental Gen Z, saat layar lebih menarik daripada bermain di luar. (Foto: Youtube Maudy Ayunda)

Beritakebumen.com – Generasi muda saat ini menghadapi lonjakan kecemasan dan depresi yang mengkhawatirkan.

Psikolog sosial Jonathan Haidt dalam bukunya “The Anxious Generation” mengungkap perubahan besar, pola asuh berbasis layar sejak awal 2010-an telah mengubah struktur otak anak-anak.

Maudy Ayunda turut menyoroti temuan ini sebagai alarm bagi orang tua dan pendidik.

Dulu anak-anak bermain bebas hingga petang. Kini mereka lebih banyak terpaku pada TikTok, YouTube, dan gim daring di dalam kamar.

BACA JUGA: Masuk Usia 30 Bukan Momok, Abigail Limuria Ungkap Cara Menyaring Hidup Tanpa Insecure

Haidt menjelaskan bahwa anak-anak bersifat antifragile. Mereka butuh tantangan dan risiko kecil untuk tumbuh tangguh.

Ketika masa kecil berbasis permainan berganti menjadi masa kecil berbasis ponsel, anak-anak kehilangan kesempatan belajar menyelesaikan konflik, mengambil risiko, dan membangun kemandirian.

Maudy memaparkan empat konsekuensi serius. Pertama, interaksi tatap muka berkurang, membuat koneksi emosional menjadi dangkal.

Kedua, kualitas tidur memburuk karena cahaya layar mengganggu ritme sirkadian. Ketiga, fragmentasi perhatian membuat otak sulit fokus.

Keempat, gejolak emosional muncul dari perbandingan sosial dan rasa takut tertinggal atau FOMO.

Sejak 2012, angka gangguan mental melonjak drastis. Remaja perempuan tertekan standar kecantikan tidak realistis dari Instagram.

Mereka terjebak tekanan performa sosial yang memicu kecemasan internal. Sementara remaja laki-laki menarik diri dari dunia nyata, tenggelam dalam gim atau konten kontroversial.

Mereka tampak tenang, namun mengalami kesepian mendalam dan kehilangan motivasi hidup.

BACA JUGA: Najwa Shihab: Generasi Muda Perempuan Harus Berani Ambil Peluang dan Lawan Rasa Malu

Maudy membagikan solusi praktis. Orang tua disarankan menunda pemberian ponsel hingga anak berusia 14 tahun dan akses media sosial hingga 16 tahun.

Ciptakan ritual bebas layar, misalnya saat makan bersama atau sebelum tidur. Bangun norma kolektif di komunitas dan sekolah agar anak tidak merasa terasing.

Ajak anak kembali ke kegiatan fisik seperti olahraga, seni, atau jalan sore.

Maudy menegaskan pesan ini bukan untuk menyalahkan teknologi. Memulai langkah kecil dengan cinta dan kesadaran jauh lebih baik daripada membiarkan generasi muda tenggelam dalam isolasi digital.

Menghadirkan kembali ruang bermain dan koneksi nyata adalah investasi terbaik bagi kesehatan mental masa depan anak-anak kita.

Berita terkait