SRUWENG, Beritakebumen.com – Pemerintah Desa Klepusanggar di Kebumen memanfaatkan 20 persen Dana Desa 2025 untuk program ketahanan pangan yang produktif budidaya bebek petelur.
Program ini dijalankan oleh BUMDes Klepusanggar Sejahtera, dengan target memperkuat ekonomi desa dan menyediakan protein hewani bagi masyarakat.
Kepala Desa Klepusanggar, Handoko, menyatakan bahwa sebanyak 650 ekor bebek petelur jenis Mataram telah dibudidayakan di kandang desa.
BACA JUGA: Grenggeng, Desa Penghasil Anyaman Pandan yang Mendunia dari Kebumen
Meski baru berjalan satu setengah bulan, produksi telur telah mencapai rata-rata 470 butir per hari. Angka ini diproyeksikan akan terus naik seiring bebek memasuki masa puncak produksi.
“Pemilihan budidaya bebek petelur didasari nilai gizinya yang tinggi dan peluang pasar di Kabupaten Kebumen yang masih terbuka lebar,” jelas Handoko.
Ia menambahkan bahwa bebek petelur memiliki produktivitas tinggi, mencapai 90 persen, dengan potensi hasil 200-250 butir per ekor per tahun.
Untuk meningkatkan nilai tambah, Pemdes berencana memberdayakan kelompok ibu-iba dalam pengolahan telur menjadi telur asin.
Selain itu, Karang Taruna akan dilibatkan dalam program penetasan bibit bebek mandiri guna mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.
BACA JUGA: Tak Kenal Musim, Kelengkeng New Kristal Jadi Primadona Baru dari Desa Pejengkolan
Antusiasme warga terhadap program ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang berkunjung ke kandang untuk membeli telur sekaligus belajar budidaya.
BUMDes juga menerapkan kebijakan harga khusus bagi warga Klepusanggar, mulai dari Rp1.500 per butir untuk telur ukuran terkecil.
Inovasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat Desa Klepusanggar.






