KUTOWINANGUN, Beritakebumen.com – Pasangan suami istri asal Desa Lumbu, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, Andrianto dan Hamimah, membuktikan bahwa sektor pertanian memiliki prospek ekonomi yang sangat menjanjikan.
Melalui budidaya tanaman timun, mereka berhasil meraup pendapatan hingga belasan juta rupiah sekaligus menjadi pemasok utama bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tersebut.
Keberhasilan ini berawal dari pemanfaatan lahan seluas 100 ubin yang mereka kelola dengan tekun.
Andrianto memilih timun karena masa tanamnya yang relatif singkat dan perawatannya yang tidak rumit, sehingga perputaran modal menjadi lebih cepat dibandingkan komoditas lainnya.
BACA JUGA: Tak Perlu Sawah, Modal Botol Bekas di Teras Rumah Kini Bisa Jadi Sumber Pendapatan Stabil
Masa Panen Cepat dan Permintaan Tinggi
Hamimah menjelaskan bahwa timun sudah mulai bisa dipanen hanya dalam waktu 38 hingga 40 hari setelah masa tanam. Dari luasan lahan sekitar 70 ubin, mereka mampu memanen hingga 4 kuintal timun setiap harinya.
“Hasilnya sangat lumayan dan prospektif. Sejak umur 38 hari kami sudah mulai panen setiap hari,” ujar Hamimah.
Saat ini, permintaan pasar terhadap komoditas timun melonjak tajam, terutama untuk mendukung program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kebumen.
Hamimah mengaku kewalahan memenuhi permintaan tersebut. Bahkan, permintaan yang masuk bisa mencapai 8 kuintal, sementara kapasitas produksi mereka saat ini baru mampu memenuhi sebagian kecil dari kebutuhan tersebut.
Rahasia Perawatan Semi Organik
Dalam menjalankan usahanya, Andrianto menerapkan sistem perawatan semi organik. Ia tidak bergantung sepenuhnya pada pupuk kimia, melainkan memanfaatkan pupuk hasil fermentasi dari bahan-bahan organik.
Strategi ini terbukti efektif menjaga kualitas tanaman sekaligus menekan biaya produksi.
Saat ini terdapat sekitar 3.500 pohon timun yang dikelola. Hingga saat ini, mereka telah melakukan sembilan kali panen dengan total produksi mencapai 3,5 ton.
Andrianto memprediksi total hasil panen bisa menyentuh angka 7 ton hingga masa produksi berakhir nanti.
BACA JUGA: Lebih Cuan dari Emas, Inilah 7 Tanaman Penghasil Uang Rutin yang Sering Diremehkan
Harga Jual Stabil di Jalur Kemitraan
Meski harga timun di pasar umum cenderung fluktuatif dan sering kali murah, pasangan ini mendapatkan harga yang lebih baik melalui jalur distribusi program MBG. Harga jual di tingkat ini berkisar antara Rp3.000 hingga Rp5.000 per kilogram.
Ada dua varietas yang ditanam, yakni Jatafi dan Erina. Namun, jenis Jatafi menjadi yang paling banyak diminati oleh pasar MBG karena kualitas dan rasanya yang sesuai dengan standar kebutuhan konsumsi program tersebut.
Kisah sukses Andrianto dan Hamimah di Desa Lumbu ini diharapkan menjadi inspirasi bagi warga lainnya untuk mengoptimalkan lahan pertanian mereka.
Dengan pemilihan komoditas yang tepat dan target pasar yang jelas, sektor pertanian terbukti mampu menjadi tulang punggung ekonomi keluarga yang sangat kuat di Kabupaten Kebumen.






