Salim Wazdy Serukan Ekoteologi, Ajak Umat Wujudkan Idul Adha Ramah Lingkungan

Idul Adha
Dr Salim Wazdy saat menjadi khatib salat Idul Adha di Alun-alun Pancasila Kebumen. (Foto: Dok. Kemenag)

KEBUMEN, Beritakebumen.com – Kepala Seksi Bimas Islam sekaligus Pelaksana Harian (Plh) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen, Dr H Salim Wazdy SAg MPd mengajak umat Islam tidak hanya memahami Idul Adha sebagai ritual penyembelihan hewan kurban, tetapi juga sebagai momentum refleksi atas tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.

Salim menyerukan pesan ekoteologi. Dia menekankan bahwa menjaga kelestarian lingkungan adalah bagian integral dari ibadah kepada Allah SWT.

Berita Lainnya

“Pengorbanan yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi simbol ketaatan yang seharusnya kita wujudkan dalam bentuk kepedulian sosial dan ekologis,” ujar Dr Salim Wazdy saat menjadi Khatib Salat Idul Adha di Alun-alun Pancasila Kebumen, Jumat (6/6/2025).

Salat Idul Adha di jantung kota Kebumen dan dihadiri oleh ribuan umat Islam itu diselenggarakan Panitia Hari Besar Islam (PHBI) tingkat kabupaten. Bertindak sebagai imam H Mul’an Anafati MPsi dan sebagai khatib Dr Salim Wazdy. Ibadah dimulai pukul 06.30 WIB berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan.

BACA JUGA: Pemkab Kebumen Terima Sapi Kurban dari Presiden, Berat Capai 950 Kg

Lebih lanjut, Salim Wazdy mengutip surah Al-Hijr ayat 19 dan surah Al-A’raf ayat 56, Salim menyampaikan bahwa bumi yang telah diciptakan Allah dengan keseimbangan sempurna tidak boleh dirusak oleh tangan manusia. Ia menjelaskan bahwa merusak lingkungan berarti mengingkari nikmat Allah dan mencederai amanah sebagai pemelihara ciptaan-Nya.

Dalam pandangan tafsir klasik seperti Ibnu Katsir maupun kontemporer seperti Wahbah Az-Zuhaili, larangan berbuat kerusakan mencakup baik fisik maupun moral, termasuk degradasi nilai dan kepedulian sosial.

Tak hanya itu, dalam khutbahnya Salim juga menyinggung pentingnya perlakuan etis terhadap hewan kurban. Menurutnya, proses penyembelihan harus dilakukan secara santun, dengan pisau yang tajam dan tanpa menyakiti. Hal ini menegaskan bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan dengan sesama makhluk hidup.

“Kesantunan Nabi Muhammad SAW. terhadap hewan menjadi teladan ekologis yang sarat dengan nilai etika,” jelasnya.

Ramah Lingkungan

Lebih lanjut, Salim Wazdy mengajak jemaah untuk mempraktikkan kurban yang ramah lingkungan, antara lain dengan tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan lokasi penyembelihan, dan menggunakan wadah alami seperti daun pisang atau besek bambu dalam distribusi daging kurban. Ia menekankan bahwa krisis lingkungan saat ini bukan hanya disebabkan oleh faktor fisik, tapi juga krisis spiritual karena hilangnya adab terhadap alam.

Dalam penjelasannya, Salim merujuk pada pemikiran Syekh Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitab Ri’āyat Al-Bī’ah fī Syarī‘at Al-Islām, bahwa perlindungan terhadap alam merupakan bagian dari lima maqāshid asy-syarī‘ah: menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Maka, melestarikan alam berarti menjaga tatanan kehidupan manusia dan kelangsungan penerapan syariat Islam itu sendiri.

BACA JUGA: Kemenag Kebumen Terima 101 CPNS, Terbanyak Kedua se-Jawa Tengah

Di akhir khutbah, Salim menutup dengan ajakan reflektif: “Kalau dulu Nabi Ibrahim diuji dengan menyembelih putranya, maka hari ini kita diuji untuk menyembelih egoisme, konsumerisme, dan gaya hidup eksploitatif yang merusak bumi.”

Ia menegaskan bahwa pengorbanan sejati dalam Idul Adha tidak hanya dalam bentuk daging, melainkan dalam komitmen memperbaiki relasi dengan Allah, manusia, dan alam.

“Mari jadikan bumi ini sebagai ladang ibadah yang kita rawat dengan cinta dan tanggung jawab. Cintailah bumi ini sebagaimana Nabi Ibrahim mencintai Tuhannya dan putranya. Karena mencintai bumi adalah bagian dari mencintai ciptaan-Nya,” tutupnya. (Supriyanto)

Berita terkait