GOMBONG (BeritaKebumen.com) – Roemah Martha Tilaar Gombong yang saat ini dikelola Yayasan Amalan Bakti Ekata (dulu Yayasan Warisan Budaya Gombong), pada tahun ini menginjak usia yang ke–10 atau 1 dekade.
Perayaan 1 dekade Yayasan Amalan Bakti Ekata di Roemah Martha Tilaar diisi dengan berbagai acara. Di antaranya diskusi dan peluncuran buku “Jagatan”, sharing session UMKM, pertunjukan dongeng Jagatan dan Tari Jagawana, workshop, serta screening film “Jagatan”.
Baca juga: Berikut Rekomendasi Rakornas Komite Nasional Geopark Indonesia 2024

“Jadi 10 tahun yang lalu memang rumah ini diambil alih oleh Ibu Martha Tilaar dari pihak keluarganya, kemudian Ibu Martha mempunyai impian untuk memberikan kontribusi nyata kepada kampung halamannya,” kata Wulan Maharani Tilaar—putri dari Martha Tilaar, Jumat 6 Desember 2024.
Dengan mengusung tema “Temu Kenali Gombong”, Wulan mengatakan bahwa tema tersebut dilatarbelakangi banyaknya kota-kota kecil yang mulai bangkit dengan potensi yang dimilikinya.
“Seperti Gombong misalnya, pasti ada sesuatu yang menarik yang bisa dieksplorasi, digali, dan itu mungkin kita bisa sharing apa yang sudah kita lakukan selama 10 tahun. Bisa menjadi contoh di kota lain di Indonesia,” sambung Wulan.
Roemah Martha Tilaar Gombong Usung 4 Program
Anak pengusaha di bidang kecantikan yang telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia tersebut juga menjelaskan bahwa Roemah Martha Tilaar Gombong memiliki 4 program atau 4 pilar. Yakni education, culture, nature, dan empowerment women.
“Pemberdayaan perempuan contohnya pendampingan untuk ibu-ibu pengrajin pandan di Desa Grenggeng. Dari situ kita juga mendokumentasikan tentang bagaimana cara membuat anyaman pandan, tanamannya, dan corak- coraknya yang ternyata sangat banyak,” kata Wulan.

Adapun untuk culture, Roemah Martha Tilaar Gombong mengisi dengan berbagai kegiatan seni budaya seperti festival dolanan anak, pesta kriya, dan pameran lukisan ibu berkarya. Sedangkan untuk edukasi, pihaknya mengajarkan tentang pengolahan sampah serta penggunaan jenis tanaman obat baik untuk kosmetik maupun kesehatan.
“Untuk pendanaan, kita mengandalkan dari kreativitas. Program-program kegiatan kita buat berbayar. Ada juga donasi dari masyarakat atau corporate, menulis buku lalu kita jual, penyewaan tempat, dan cafe yang kita miliki ini jadi penopang pendanaan Roemah Martha Tilaar Gombong,” pungkasnya.
Pada kesempatan ini, Dewan Pakar Geopark Kebumen Dr Chusni Ansori yang hadir di lokasi menyatakan bahwa keberadaan Roemah Martha Tilaar Gombong sangat menarik.
Hal ini menurut Chusni dikarenakan saat awal dirinya mengajukan dossier (dokumen) Geopark Kebumen, ia memikirkan tentang culture diversity.
“Culture diversity (keragaman budaya), salah satu culture itu saya pikir di Gombong. Gombong itu di mana? Ya pasti mikirnya jadi seperti itu. Maka dari situ kemudian kami mendalami ada apa sih sebenarnya di Roemah Martha Tilaar Gombong,” kata Chusni Ansori.
Berharap Naik Kelas
Ia berharap dengan keberadaan Roemah Martha Tilaar Gombong, program-program yang diusungnya bisa naik kelas menjadi internasional atau global.
“Tahun depan insyaallah kita terima sertifikat internasional UGGp. Maka tantangannya adalah bagaimana Roemah Martha Tilaar Gombong sebagai center of excellence di dalam culture heritage, statusnya juga berubah menjadi internasional sekalian,” pungkas Chusni Ansori.





