Tradisi Ziarah Kubur Jelang Ramadan, Bagaimana Hukumnya? Ini Penjelasan Buya Yahya

Buya Yahya jelaskan makna ziarah kubur jelang Ramadhan sebagai persiapan batin, pengingat kematian, dan sarana silaturahmi sebelum memasuki bulan suci. (Foto: Beritakebumen.com)

Beritakebumen.com – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, pemakaman umum di berbagai daerah mulai dipadati peziarah.

Tradisi turun-temurun ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah momentum sakral untuk menyambung doa dan menata batin sebelum memasuki bulan penuh berkah.

Berita Lainnya

Pengasuh LPD Al-Bahjah, Buya Yahya, menjelaskan bahwa ziarah kubur adalah amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Meski pada awal masa kenabian sempat dilarang, Rasulullah SAW kemudian memperbolehkannya. Alasan utamanya adalah manfaat besar dalam melembutkan hati serta mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.

BACA JUGA: Gus Baha Ingatkan Cara Beragama yang Bahagia dan Rileks, Jangan Jadikan Takdir Sebagai Beban

Mengingat Akhirat dan Mendoakan Keluarga

Menurut Buya Yahya, tujuan utama ziarah adalah pengingat akan kematian. Saat berdiri di depan pusara, seorang muslim diharapkan sadar bahwa suatu saat ia akan menyusul mereka yang telah tiada.

Di sisi lain, momen menjelang Ramadhan menjadi waktu yang tepat bagi keluarga untuk mengirimkan doa terbaik bagi orang tua atau kerabat yang sudah wafat.

Harapannya, keberkahan dan pahala ibadah yang dilakukan selama bulan suci nanti dapat turut mengalir kepada arwah mereka di alam barzakh.

Jembatan Silaturahmi Sebelum Puasa

Selain aspek spiritual terhadap Allah, ziarah juga berfungsi sebagai sarana mempererat hubungan antarmanusia. Tradisi ini seringkali menjadi ajang berkumpulnya keluarga besar untuk saling bermaafan.

Buya mengingatkan bahwa ibadah puasa akan terasa hambar jika seseorang masih menyimpan kebencian atau permusuhan terhadap sesama.

“Hati yang bersih adalah prasyarat penting sebelum masuk ke bulan Ramadhan,” ungkapnya dalam kanal Youtube Al-Bahjah TV, yang dikutip Minggu, 15 Februari 2026.

Dengan mengingat kematian melalui ziarah, ego manusia akan luruh sehingga lebih mudah untuk saling memaafkan dan memulai ibadah dengan jiwa yang tenang.

BACA JUGA: Tips Bahagia ala Gus Baha, Rahasia Hidup Tenang dengan Menunggu Waktu Salat

Buya Yahya memberikan catatan kritis bagi umat agar tidak terjebak pada persiapan fisik yang berlebihan.

Fokus pada stok makanan mewah atau kesibukan menata rumah seringkali mengalihkan perhatian dari persiapan yang lebih esensial, yakni persiapan batin.

Ia mengajak umat Islam untuk menjadi pribadi yang “cerdas Ramadhan”, yaitu mereka yang sangat menghargai waktu dan fokus pada peningkatan amal ibadah seperti tilawah Al-Qur’an dan penataan niat.

Dengan hati yang jernih dan hubungan yang harmonis, ibadah di bulan suci akan terasa jauh lebih bermakna.

Berita terkait