BERITAKEBUMEN.COM – Tantangan ekonomi global, mulai dari penguatan dolar AS hingga lonjakan biaya hidup, kian menekan daya beli masyarakat.
Menariknya, kondisi ini memicu tren unik bernama lipstick effect, di mana generasi muda tetap gemar berbelanja barang tersier penunjang gaya hidup demi hiburan di kala sulit.
Indikasi nyata pergeseran perilaku konsumsi ini terlihat di festival Brightspot City yang digelar di Agora Mall, Jakarta Pusat.
Kawasan ini tetap dipadati pengunjung yang aktif membelanja pakaian dan produk gaya hidup.
Bagi Generasi Z (Gen Z), belanja barang tersier menjadi bentuk apresiasi diri sekaligus pemantik motivasi kerja.
Di tengah sulitnya menjangkau impian besar seperti membeli rumah, mengalihkan fokus pada kebahagiaan kecil yang terjangkau menjadi pilihan realistis untuk melepas stres.
BACA JUGA: Dokter Tirta Ungkap Penyebab Uban di Usia Muda, Bukan karena Penuaan!
Ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menjelaskan bahwa fenomena ini membawa dampak ganda. Di satu sisi, perputaran uang di sektor retail memberikan stimulus positif bagi pertumbuhan ekonomi makro.
Namun di sisi lain, pengeluaran yang tidak terkontrol untuk kebutuhan leisure ini berisiko menggerus daya beli jangka panjang dan mengabaikan kebutuhan primer seperti pendidikan dan kesehatan.
Pada akhirnya, tren lipstick effect menjadi mekanisme pertahanan psikologis Gen Z dalam menghadapi ketidakpastian.
Menikmati hasil kerja keras sangat penting untuk menjaga kesehatan mental, namun kedisiplinan mengatur prioritas keuangan tetap menjadi kunci masa depan yang stabil.






