BERITAKEBUMEN.COM – Dalam kajian Ngaji Filsafat yang diasuh Dr. Fahruddin Faiz, kisah spiritual Syekh Hafiz Shirazi menjadi pembahasan menarik tentang transformasi cinta duniawi menuju cinta sejati kepada Sang Pencipta.
Syekh Hafiz Shirazi, atau Syamsuddin Muhammad, merupakan penyair sufi legendaris abad ke-14 yang lahir di Shiraz, Iran.
Sejak kecil, hafalannya luar biasa hingga mampu menguasai Al-Qur’an dan kitab-kitab sufi dari Jalaluddin Rumi, Sa’di Shirazi, hingga Fariduddin Attar.
Pengaruh sastranya bahkan menyentuh pemikir Barat seperti Johann Wolfgang von Goethe dan Friedrich Nietzsche yang menulis puisi khusus untuk menghormatinya.
BACA JUGA: Bukan Kebetulan, Ini Alasan Manusia Bisa Jatuh Cinta Menurut Fahruddin Faiz
Perjalanan spiritual Hafiz bermula dari kisah cinta manusiawi. Saat masih pemuda pekerja toko roti, ia jatuh hati pada putri bangsawan bernama Shahi Nabat.
Menyadari perbedaan status, Hafiz mendatangi seorang ulama dan menerima ijazah amalan tirakat malam selama 40 hari.
Tirakat ini diyakini mendatangkan utusan Ilahi pada malam terakhir yang akan mengabulkan permintaan.
Namun pada malam ke-40, Hafiz justru terpesona oleh keindahan spiritual yang ia saksikan.
Rasa kagum itu melenyapkan keinginannya terhadap kecantikan duniawi.
Saat ditanya permintaannya, Hafiz tidak lagi memohon sang pujaan hati, melainkan memilih cinta Allah SWT.
Momen ini menjadi awal perjalanannya berguru kepada Syekh Attar dan mengabdikan hidup pada tasawuf.
BACA JUGA: Menentukan Pasangan Hidup, Ini Tanda Jodoh Menurut Fahruddin Faiz
Dr. Fahruddin Faiz menjelaskan bahwa ajaran Hafiz mengajak manusia menjadi pribadi “berbentuk hati”.
Fokus kehidupan bukan mencari siapa yang dicintai, melainkan mentransformasi diri menjadi sosok penuh kasih.
Kebahagiaan sejati lahir dari cinta tulus, sementara hati yang kosong dari kasih hanya melahirkan kekerasan dan kecurigaan.
Hafiz mengajak setiap orang melatih ketenangan batin dan melihat kehadiran Ilahi pada setiap ciptaan-Nya.






