Memahami Kedewasaan Sejati: Bukan Mati Rasa, Tapi Berani Merasakan

Kedewasaan diukur saat menghadapi batu sandungan, bukan saat tenang. (Foto: Ilustrasi AI)

Beritakebumen.com – Banyak orang keliru mengartikan kedewasaan sebagai kemampuan menahan emosi hingga “mati rasa”.

Padahal, menurut Abigail Limuria, co-founder What Is Up Indonesia (WIUI), dewasa justuh berarti berani merasakan dan memproses emosi secara jujur.

Berita Lainnya

Dalam diskusi Self-Growth & Mindset, Abigail membagikan pengalaman transformatifnya sepanjang 2024.

Ia menegaskan bahwa kedewasaan bukan soal kehilangan kepekaan, melainkan kendali penuh atas respons terhadap krisis.

Abigail juga menyoroti bahaya menjadikan validasi eksternal sebagai motivasi utama.

“Semakin tinggi harapan kita pada reaksi orang lain, semakin besar potensi luka saat ekspektasi itu tak terpenuhi,” ujarnya.

Kini ia memilih bertindak berdasarkan kepuasan pribadi, bukan demi pujian.

BACA JUGA: Waspada! 4 Kebiasaan Pagi Hari yang Diam-Diam Merusak Ginjal

Menurut Abigail, krisis adalah ujian sesungguhnya bagi karakter seseorang. Tahun 2024 menjadi tahun terberat sekaligus pembelajaran terbesar baginya.

Ia belajar merangkul rasa sakit, membiarkan diri menangis, dan tidak memaksakan menahan emosi.

“Tingkat kedewasaan seseorang baru terukur saat mereka dilempar ‘batu’,” tambahnya.

Di dunia kerja, Abigail menekankan pentingnya kesepakatan tertulis, bahkan dengan teman dekat. Kejelasan, baginya, adalah bentuk kepedulian yang nyata.

Melalui What Is Up Indonesia, Abigail terus mengedukasi anak muda tentang isu sosial dan politik.

Pesannya, kedewasaan adalah proses tanpa henti, dimulai dari kesadaran bahwa kita tidak tahu segalanya. Itulah pintu menuju keterbukaan pikiran dan pertumbuhan diri sejati.

Berita terkait