Buku Antologi SRMB Kebumen Hadirkan Puisi ‘Beri Aku Semangkuk Doa’ Karya Pitra Suwita

Puisi Penuh Makna Pitra Suwita, Beri Aku Semangkuk Doa, karya abadi dari Sekolah Rakyat MeluBae Kebumen. (Foto: pexels.com/anouar olh)

KEBUMEN, Beritakebumen.com – Penyair lokal berbakat dari Kebumen, Pitra Suwita, kembali mencuri perhatian publik sastra dengan salah satu karya ikoniknya, “Beri Aku Semangkuk Doa.”

Puisi sarat pesan spiritual dan harapan ini menjadi representasi kuat dari geliat literasi yang diusung oleh komunitas Sekolah Rakyat MeluBae (SRMB) Kebumen.

Berita Lainnya

Karya ini menawarkan perspektif mendalam tentang arti ketulusan dan kekuatan doa dalam menghadapi tantangan hidup.

Puisi “Beri Aku Semangkuk Doa” adalah bagian dari koleksi berharga yang termuat dalam Buku Antologi Bulan Menggantung, sebuah publikasi yang diterbitkan secara mandiri oleh SRMB Kebumen.

BACA JUGA: Pesan Manis Penyair Kebumen: Puisi ‘Gerimis Sore’, Kado Sajak dari Pitra Suwita untuk Gadis Kecilnya

Puisi ini ditulis langsung oleh Pitra Suwita di kota asalnya, Kebumen, pada 12 Juli 2010. Inti dari puisi ini terletak pada penekanan nilai-nilai non-materiil.

Melalui diksi yang jujur dan menyentuh, Pitra Suwita menyampaikan bahwa dukungan yang paling berharga bukanlah setangkai bunga atau mimpi, melainkan semangkuk doa dan setandan cinta yang tulus.

Elemen-elemen inilah yang dianggapnya mampu “melepas dahaga” dan memberi kekuatan untuk bertahan dalam perjalanan hidup, atau yang ia ibaratkan sebagai “arungi samudra” dan “melawan arus.” Puisi tersebut juga memuat refleksi tentang anugerah dan ketekunan.

Baris seperti “berapa kali musim berganti tanpa badai adalah sebuah anugrah” dan “tak lelah menunggu musim semi” menunjukkan rasa syukur dan optimisme yang mendalam, meskipun ia menyadari perjuangan dan tantangan yang ada.

Penulis menekankan bahwa dalam kepasrahan dan penerimaan, pertolongan Tuhan (Anugrah) akan selalu hadir, menutupnya dengan pesan tegas: jangan menangis, berilah aku semangkuk doa.

BACA JUGA: Puisi “Sajak Cinta” Pitra Suwita, Bunga Cinta Bersemi dari Antologi Bulan Menggantung

Berikut ini puisi Beri Aku Semangkuk Doa, karya Pitra Suwita:

Beri Aku Semangkuk Doa

Tak usah kau menangis
kalau tak mampu memberi aku setangkai bunga
Tak usah kau berduka
kalau tak mampu memberi aku mimpi
cukup semangkuk doa
setandan cinta
buat melepas dahagaku

Sejauh ini
berapa kali musim berganti tanpa badai
adalah sebuah anugrah
berapa kali bunga-bungan tlah gugur
tak lelah menunggu musim semi
perahu tlah kita dayung
layar terkembang tak koyak

Beri aku semangkuk doa
biar bertahan
arungi samudra
tak usah menangis
kalau harus melawan arus

Di tepian itu kan
belabuh

Tak terukur Anugrah yang ia beri
jangan menangis
beri aku semangkuk doa.

Kebumen, Rajab, 1207010.

BACA JUGA: ‘Dari Alif Sampai Ya’, Puisi Lawas Pitra Suwita yang Tak Lekang oleh Waktu

Karya Pitra Suwita ini tidak hanya memperkaya khazanah sastra di Kebumen, tetapi juga menjadi pengingat universal tentang kekuatan iman, ketulusan, dan peran penting dukungan spiritual.

Puisi “Beri Aku Semangkuk Doa” membuktikan bahwa penyair Kebumen mampu menciptakan karya abadi yang relevan melintasi waktu.

Berita terkait