Fakta Sejarah Kebumen: Buku Ini Mengungkap Fakta Hotel Juliana, RS Nirmala dan Penyatuan Karanganyar

Buku Teguh Hindarto bocorkan sejarah Kebumen era 1930-an, dari Hotel Juliana hingga penyatuan Karanganyar. (Foto: Dok. Beritakebumen.com)

KEBUMEN, Beritakebumen.com – Siapa sangka, di balik hiruk-pikuk pusat kota Kebumen yang kita kenal sekarang, tersimpan jejak-jejak kemegahan era kolonial yang nyaris terhapus dari ingatan publik.

Lokasi yang kini berdiri kokoh sebagai kantor Bank Jateng, dulunya ternyata adalah Hotel Juliana, sebuah penginapan elite yang pada tahun 1930-an dinobatkan sebagai hotel terbaik di kotanya oleh media Belanda.

Berita Lainnya

Fakta menarik ini terungkap dalam dua buku karya sejarawan Teguh Hindarto, yang berjudul “Bukan Kota Tanpa Masa Lalu” dan “Wetan Kali Kulon Kali”.

Lewat riset mendalam berbasis dokumen digital dari Belanda, Teguh mencoba merekonstruksi wajah Kebumen dan Karanganyar di masa lampau yang selama ini jarang diketahui masyarakat luas.

BACA JUGA: Menyingkap Misteri Watulawang: Situs Megalitikum, Tradisi Unik dan Jejak 10 Juta Tahun di Kebumen

“Sebuah kota tidak ada begitu saja. Ada rangkaian peristiwa dan tokoh yang membentuk struktur sosial dan politiknya,” ujar Teguh dalam sebuah sesi wawancara di kanal Kebumen Update TV.

Rahasia Karanganyar dan RS Nirmolo

Buku kedua Teguh, “Wetan Kali Kulon Kali”, menyoroti masa jaya Kabupaten Karanganyar sebelum akhirnya digabungkan ke Kabupaten Kebumen pada tahun 1936.

Terungkap bahwa Karanganyar kala itu memiliki potensi ekonomi luar biasa, mulai dari sarang burung walet hingga fasilitas kesehatan yang maju.

Salah satu temuan yang mengejutkan adalah asal-usul Puskesmas Karanganyar. Jauh sebelum menjadi Puskesmas, tempat tersebut adalah Rumah Sakit Nirmolo yang didirikan oleh Iskandar Tirtokusumo untuk menjamin kesehatan masyarakat pada masa itu.

Koreksi Sejarah Lewat Lensa Kamera

Tak hanya mengungkap bangunan fisik, buku ini juga meluruskan kesalahan persepsi sejarah yang telah menahun. Teguh memberikan klarifikasi mengenai foto tokoh Arungbinang yang banyak beredar.

Melalui analisis teknologi fotografi, ia membuktikan bahwa foto yang sering dikira Arungbinang IV tersebut sebenarnya adalah Arungbinang VII (Maliki Suryo Harjo).

Hal ini mengingat teknologi foto baru masuk ke wilayah tersebut jauh setelah masa Arungbinang IV berakhir.

BACA JUGA: 2 Destinasi Wisata Malam Gratis di Kebumen, Cocok untuk Liburan Akhir Tahun yang Hemat

Sejarah Sebagai Basis Kebijakan

Melalui kedua buku ini, Teguh Hindarto berharap sejarah tidak lagi dianggap sebagai sekadar mata pelajaran hafalan di sekolah.

Ia menekankan bahwa catatan masa lalu sangat krusial bagi pemerintah dalam menetapkan kebijakan di masa kini.

“Penting sekali menelusuri masa lalu agar kita tahu mengapa kondisi saat ini terjadi. Hasil penelitian sejarah seharusnya bisa menjadi basis dalam pengambilan keputusan pemerintah,” tambahnya.

Bagi warga Kebumen dan pecinta sejarah, karya ini menjadi “pintu masuk” untuk mengenal identitas asli daerahnya. Sekaligus pengingat bahwa di bawah aspal jalanan yang kita lalui, pernah ada geliat modernisasi yang luar biasa di masa Hindia Belanda.

Kini, melalui goresan tinta dalam bukunya, Teguh Hindarto mengajak kita semua untuk tidak membiarkan masa lalu Kebumen terkubur begitu saja.

Berita terkait