Sembahyang Rebutan di Kelenteng Kebumen, Ritual Bakti Leluhur dan Berbagi 1.300 Sembako

Usai sembahyang rebutan, Kelenteng Kong Hwie Kiong Kebumen bagikan 4 ton beras. (Beritakebumen.com)

KEBUMEN, Beritakebumen.com – Kelenteng Kong Hwie Kiong Kebumen menggelar ritual Sembahyang Rebutan atau King Ho Ping pada Sabtu, 6 September 2025.

Acara yang bertepatan dengan tanggal 15 bulan ke-7 penanggalan Imlek (Chiet Gwee) ini tidak hanya menjadi wujud bakti kepada leluhur tetapi juga dimaknai sebagai momentum mempererat solidaritas dan berbagi dengan sesama.

Berita Lainnya

Ritual Sembahyang Rebutan merupakan tradisi turun-temurun dalam budaya Tionghoa. Keyakinan ini menyatakan bahwa pada hari tersebut, pintu surga terbuka sehingga arwah leluhur dipercaya mengunjungi dunia.

Sebagai bentuk penghormatan, umat menyiapkan berbagai sesaji seperti makanan, buah-buahan, minuman, dan dupa yang dipersembahkan di atas meja altar, disertai dengan pembacaan doa dan mantra.

BACA JUGA: Grebeg Rolasan di Pantai Mliwis: Merawat Tradisi, Memajukan Pariwisata

Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh sejumlah pejabat, antara lain Wakil Bupati Kebumen Zaeni Miftah dan Dandim 0709 Kebumen Letkol Arm Purba Sudibyo, bersama pengurus kelenteng dan tokoh masyarakat Tionghoa setempat.

Sugeng Budiawan, Penasihat dan Sesepuh TITD Kong Hwie Kiong, menekankan bahwa ritual ini memiliki makna universal.

“Leluhur, sanak saudara, dan yang tidak terurus oleh keluarganya atau yang sudah berbeda keyakinan, kita urus semuanya,” ujarnya.

Ia menambahkan, tradisi ini bukan sekadar aktivitas keagamaan, tetapi juga sarana memperkuat persaudaraan.

Nilai kepedulian tersebut diwujudkan dalam aksi nyata. Usai prosesi sembahyang, pihak kelenteng membagikan 1.300 paket sembako kepada masyarakat sekitar yang tersebar di 27 RT.

Total bantuan yang disalurkan mencapai 4 ton beras, dengan setiap paket berisi 3 kg beras dan mie instan.

Ketua Yayasan TITD Kong Hwie Kiong, Henki Halim, menjelaskan bahwa kegiatan berbagi ini selaras dengan esensi Sembahyang Rebutan.

BACA JUGA: Kirab Budaya dan Grebeg Gunungan Warnai Hari Jadi ke-396 Kebumen

“Ritual ini bukan hanya untuk mendoakan arwah keluarga, tetapi juga untuk mereka yang tidak memiliki keluarga. Ini adalah bentuk kepedulian kita terhadap sesama,” tegas Halim.

Wakil Bupati Kebumen Zaeni Miftah menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas penyelenggaraan acara tersebut. Menurutnya, bakti sosial yang digelar mencerminkan empati dan solidaritas yang inklusif.

“Bantuan ini bukan sekadar materi, tetapi wujud nyata empati tanpa memandang suku, agama, atau golongan. Kita semua adalah satu keluarga besar bangsa Indonesia,” pungkas Wabup.

Ia berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban masyarakat sekaligus menebar semangat kebersamaan.

Nilai-nilai persaudaraan dan kepedulian seperti ini perlu terus dipelihara untuk mewujudkan Kebumen yang aman, damai, dan penuh kekeluargaan.

Berita terkait