Sulap Lahan Hutan Jadi Cuan, Petani Tirtomoyo Sukses Raup Rupiah dari Budidaya Lada

Kisah sukses petani Desa Tirtomoyo dalam budidaya rempah bernilai tinggi. Dengan harga lada mencapai Rp150.000 per kg, pola agroforestry ini terbukti meningkatkan ekonomi warga sekaligus menjaga kelestarian hutan. (Foto: Ilustrasi AI)

PONCOWARNO, Beritakebumen.com – Desa Tirtomoyo, Kecamatan Poncowarno, Kebumen, kini menjadi sorotan berkat keberhasilan para petaninya dalam mengoptimalkan lahan melalui budidaya rempah-rempah.

Komoditas seperti lada, cabai Jawa, kemukus, hingga kapulaga terbukti mampu mendongkrak ekonomi warga sekaligus menjaga kelestarian lingkungan melalui sistem agroforestry yang berkelanjutan.

Berita Lainnya

Kasilan, salah satu petani pelopor di desa tersebut, menceritakan pengalamannya dalam menekuni budidaya lada.

Ia memilih tanaman ini karena prosesnya yang tergolong praktis, mulai dari pembibitan hingga perawatan yang tidak menuntut perlakuan khusus.

BACA JUGA: Petani Milenial Kutowinangun Raup Omzet Belasan Juta, Pasok Kebutuhan MBG di Kebumen

Saat ini, ia mengelola sekitar 150 pohon lada dengan masa panen sekali dalam setahun. Hasilnya pun sangat menjanjikan, di mana satu kilogram lada di pasar saat ini mencapai harga Rp150.000.

Namun, perjalanan ini bukan tanpa tantangan. Kasilan mengungkapkan bahwa ketersediaan air di musim kemarau menjadi kendala utama yang harus diantisipasi oleh para petani agar produktivitas tetap terjaga.

Keberhasilan Kasilan ini mendapat dukungan penuh dari Dinas Kehutanan Wilayah 8 Provinsi Jawa Tengah.

Jumali, seorang penyuluh kehutanan, menjelaskan bahwa tanaman rempah-rempah memiliki nilai konservasi yang sangat tinggi.

Pola tanam ini memanfaatkan lahan di bawah tegakan hutan rakyat, sehingga petani tidak membutuhkan lahan terbuka khusus.

Batang pohon yang sudah ada bahkan bisa langsung digunakan sebagai rambatan atau panjatan tanaman lada.

“Kami mendorong petani lain di Tirtomoyo untuk ikut mengembangkan rempah-rempah. Potensi pasarnya bagus, budidayanya mudah, dan hasilnya secara ekonomi sudah dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Jumali.

BACA JUGA: Lebih Cuan dari Emas, Inilah 7 Tanaman Penghasil Uang Rutin yang Sering Diremehkan

Senada dengan hal tersebut, Kepala Seksi Cabang Dinas Kehutanan Wilayah 8 Jawa Tengah, Mahfud Munajat, mengapresiasi sinergi antara motif ekonomi dan semangat konservasi yang diterapkan petani.

Menurutnya, pola agroforestry ini merupakan solusi efektif untuk menangani lahan kritis sekaligus meningkatkan kesejahteraan.

Sebagai langkah nyata, pihaknya siap membantu petani dalam memotong rantai distribusi pemasaran agar harga jual di tingkat petani tetap stabil dan menguntungkan.

Melalui integrasi antara aspek ekonomi dan lingkungan ini, Desa Tirtomoyo diharapkan menjadi model percontohan bagi desa-desa lain dalam mengembangkan potensi hutan rakyat yang produktif dan lestari.

Berita terkait