Menguak Sisi Gelap Industri Air Minum Kemasan, Ancaman Mikroplastik hingga Eksploitasi Air Tanah

Di balik bisnis AMDK yang masif, ada bahaya kontaminasi mikroplastik bagi organ tubuh dan krisis air bagi petani lokal. (Foto: Ilustrasi AI)

BERITAKEBUMEN.COM – Air minum dalam kemasan (AMDK) telah menjadi pilihan utama masyarakat karena dinilai praktis dan higienis.

Namun, berbagai penelitian ilmiah mengungkap sejumlah persoalan di balik industri ini.

Mulai dari kontaminasi mikroplastik, eksploitasi air tanah dalam, hingga meningkatnya sampah plastik yang berdampak pada lingkungan.

Data Asosiasi Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) menunjukkan terdapat sekitar 900 pelaku industri dengan lebih dari 2.000 merek AMDK yang beredar di Indonesia.

BACA JUGA: Ramai Konten Media Sosial, Ini Alasan Gen-Z Takut Hamil dan Melahirkan

Di tengah pesatnya pertumbuhan tersebut, hasil riset internasional dari State University of New York di Fredonia bersama Orb Media menemukan 93 persen sampel air kemasan mengandung mikroplastik.

Temuan serupa juga muncul di Indonesia. Sejumlah penelitian, termasuk kajian Universitas Diponegoro dan Greenpeace Indonesia bersama Universitas Indonesia, mengidentifikasi kandungan mikroplastik pada berbagai merek air kemasan.

Paparan jangka panjang terhadap partikel tersebut dinilai berpotensi memengaruhi kesehatan, meski dampaknya masih terus diteliti.

Di sisi lain, penggunaan sumur artesis berkedalaman 60 hingga 140 meter sebagai sumber air memunculkan kekhawatiran terhadap eksploitasi akuifer dalam.

Penelitian Universitas Sebelas Maret (UNS) melaporkan penurunan muka air tanah di sejumlah wilayah seperti Klaten dan Sukabumi yang berdampak pada ketersediaan air bagi masyarakat dan sektor pertanian.

Selain persoalan sumber air, industri AMDK juga berkontribusi terhadap peningkatan limbah plastik.

Produksi botol sekali pakai dalam jumlah besar memperbesar beban sampah yang mencemari sungai, pesisir, hingga tempat pembuangan akhir.

BACA JUGA: Rutin Minum Air Kelapa Setiap Hari, Benarkah Bermanfaat untuk Tubuh?

Para pakar mendorong masyarakat untuk mulai mengurangi ketergantungan pada botol plastik sekali pakai dengan memanfaatkan galon isi ulang.

Kemudian, membawa tumbler, menggunakan sistem filtrasi air di rumah, atau merebus air bersih sesuai prosedur.

Transparansi sumber air serta penguatan regulasi pengelolaan air tanah juga dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air dan kelestarian lingkungan.

Berita terkait