Ramai Konten Media Sosial, Ini Alasan Gen-Z Takut Hamil dan Melahirkan

Banyak Gen-Z takut hamil dan melahirkan akibat konten dramatis di media sosial. (Foto: Ilustrasi AI)

BERITAKEBUMEN.COM – Fenomena ketakutan Generasi Z terhadap kehamilan dan persalinan belakangan menjadi perbincangan di media sosial.

Beragam konten yang menampilkan perubahan fisik selama hamil hingga proses persalinan yang dramatis dinilai memengaruhi cara pandang banyak anak muda terhadap kehamilan.

Berita Lainnya

Spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr. Indra Tarigan, menjelaskan bahwa derasnya arus informasi di media sosial membuat Gen-Z lebih sering terpapar konten yang menonjolkan sisi ekstrem kehamilan.

BACA JUGA: Tak Perlu Gym Mahal! Jalan Kaki 15 Menit Sehari Bikin Tubuh Tetap Bugar

Algoritma platform digital cenderung mempromosikan tayangan yang mengejutkan, sehingga komplikasi persalinan lebih sering terlihat dibanding proses kehamilan dan melahirkan yang berjalan normal.

Menurut dr. Indra, sejumlah perubahan fisik seperti munculnya linea nigra, stretch mark, jerawat akibat perubahan hormon, hingga perubahan bentuk tubuh merupakan respons alami selama kehamilan.

Kondisi tersebut umumnya bersifat sementara dan dapat membaik melalui pola hidup sehat serta perawatan yang tepat.

Ia juga menegaskan bahwa menyusui bukan penyebab utama perubahan bentuk payudara, melainkan dipengaruhi perubahan hormon sejak masa kehamilan.

Selain kesehatan fisik, kondisi psikologis ibu setelah melahirkan juga memerlukan perhatian.

Penurunan hormon dapat memicu gangguan emosi, sehingga dukungan suami dalam mengasuh anak dan berbagi pekerjaan rumah menjadi faktor penting untuk membantu menurunkan risiko depresi pascapersalinan.

BACA JUGA: Tren Makan Sehari Sekali, Amankah bagi Kesehatan? Ini Hal yang Wajib Diperhatikan

Dokter Indra mengimbau calon ibu agar tidak membentuk persepsi hanya dari video pendek di media sosial.

Rasa takut menghadapi kehamilan merupakan hal yang wajar, namun sebaiknya diimbangi dengan informasi yang valid melalui konsultasi bersama tenaga kesehatan, mengikuti kelas persiapan kehamilan, serta lebih bijak dalam menyaring konten digital.

Berita terkait