PERNAHKAH Anda membayangkan sebuah bencana alam yang sanggup melumpuhkan empat benua sekaligus secara bersamaan? Ini bukan fiksi ilmiah, melainkan sejarah kelam yang sedang mengancam untuk terulang. Perkenalkan, sang monster iklim yang dijuluki Godzilla El Niño.
Belakangan ini, peringatan dini dari berbagai lembaga cuaca internasional dan perbincangan hangat di media sosial terus menyoroti anomali iklim yang juga dikenal sebagai Super El Niño ini. Bukan sekadar cuaca panas biasa, ancaman ekstrem ini diprediksi akan terus membayangi bumi, termasuk Indonesia, setidaknya hingga penghujung tahun 2026. Seberapa mematikan sang ‘Godzilla’ ini secara ilmiah dan apa yang harus segera kita waspadai? Mari kita bedah lebih dalam.

Datangnya Sang ‘Godzilla’ yang Pernah Menelan Puluhan Juta Jiwa
Sejarah mencatat monster ini pernah memicu kelaparan global. Kini, ia berpotensi bangkit kembali dengan kekuatan yang lebih destruktif.
Untuk memahami seberapa mengerikannya fenomena ini, kita harus mundur ke tahun 1877. Saat itu, fenomena Super El Niño memicu kekeringan parah secara serentak di India, Tiongkok, Brasil, dan Afrika Timur. Dampaknya? Gagal panen masif di empat benua dan bencana kelaparan yang berlangsung selama tiga tahun penuh.
BACA JUGA: Pernah Mengira Kicauan Burung Cuma Melodi Acak? Bersiaplah Kaget, Mereka Punya ‘Bentuk’!
Kalangan peneliti sejarah iklim bahkan mendeskripsikan tragedi tersebut sebagai “salah satu bencana lingkungan terburuk yang pernah menimpa umat manusia.” Pada masa itu, monster iklim ini merenggut sekitar 50 juta nyawa, yang setara dengan 3 hingga 4 persen dari total populasi dunia saat itu. Jika persentase mengerikan tersebut dikonversikan ke populasi bumi saat ini, angkanya bisa meroket menjadi sekitar 250 juta jiwa yang terancam!
Istilah “Godzilla El Niño” sendiri populer berkat Bill Patzert, pakar klimatologi dari Jet Propulsion Laboratory NASA, saat menganalisis anomali serupa pada 2015-2016. “Fenomena ini memiliki potensi besar untuk menjadi Godzilla dari semua peristiwa El Niño. Jika pola ini terus menguat, dampaknya terhadap ketersediaan air dan suhu global akan sangat masif dan sulit diprediksi,” tegasnya. Kini, sang Godzilla diprediksi kembali dengan sokongan “bahan bakar” baru dari Kutub Utara.
Sinyal Bahaya dari Kutub Bumi: Efek Domino yang Mempercepat Pemanasan
Bukan sekadar air laut yang menghangat, melelehnya es di ujung utara bumi adalah bom waktu yang memperkuat sang monster.







