BERITAKEBUMEN.COM – Istilah “generasi micin” kerap disematkan pada orang yang dianggap lamban berpikir.
Tapi benarkah konsumsi penyedap rasa atau Monosodium Glutamat (MSG) bisa menurunkan kecerdasan otak?
dr. Tirta Mandira Hudhi memberikan jawaban tegas, itu cuma mitos.
Dalam kanal YouTube Rintik Obrolan bersama Raditya Dika, dr. Tirta menjelaskan asal-usul kekeliruan ini.
Ketakutan terhadap micin lahir dari penelitian lama pada tikus. Hewan itu disuntik MSG dosis sangat tinggi hingga otaknya mengecil.
“Penelitian itu pada tikus, dosisnya disuntik, dan jauh melebihi batas normal manusia,” ujar dr. Tirta.
Batas aman konsumsi MSG bagi manusia sekitar 30 mg per kilogram berat badan. Untuk orang dengan berat 66 kg, batasnya hampir 2 gram per hari.
Jumlah itu tergolong besar dibandingkan pemakaian penyedap rasa sehari-hari. Sebagai perbandingan, glutamat justru alami ditemukan dalam jamur dan berfungsi sebagai asam amino non-esensial.
BACA JUGA: Bahaya Langsung Minum Es dan Makan Gorengan Saat Buka Puasa, Ini Penjelasan dr Tirta
Meski tidak memicu kebodohan, konsumsi MSG berlebihan tetap berbahaya.
Dokter Tirta memperingatkan kandungan natrium dalam micin bisa meningkatkan risiko hipertensi dan sindrom metabolik jika dikonsumsi ugal-ugalan dalam jangka panjang.
Ironisnya, banyak orang menyalahkan micin tapi lupa bahwa kecap asin dan manis mengandung natrium lebih tinggi yang bisa memicu tekanan darah naik.
Dalam kesempatan sama, dr. Tirta juga meluruskan mitos lain, air es tidak bikin gemuk, tidur di lantai tidak sebabkan paru-paru basah, dan bau badan bukan karena makan bawang.
Ia pun mengingatkan olahragawan agar waspada serangan jantung, terutama jika jarang berolahraga lalu tiba-tiba memaksakan diri saat kurang tidur atau stres berat.
Kerokan untuk gejala “angin duduk” juga dilarang keras karena bisa fatal. Fakta medis, bukan mitos, yang harus jadi panduan hidup sehat.






