KEBUMEN, Beritakebumen.com – Pandemi Covid-19 yang melanda beberapa tahun silam ternyata membuka pintu rezeki baru bagi Artako Aryanto.
Pria yang akrab disapa Anto, warga Keposan, Kelurahan Kebumen ini, kini sukses menekuni dunia barang antik setelah sebelumnya dikenal sebagai pedagang sepeda lawas.
Kisah sukses Anto bermula saat aktivitas pasar dan perkumpulan dibatasi ketat akibat pandemi.
Sebagai peternak burung perkutut, Anto sering menerima tamu dari komunitas pecinta burung di rumahnya. Uniknya, transaksi jual beli burung tersebut sering kali dilakukan dengan sistem barter menggunakan barang-barang kuno.
BACA JUGA: Sulap Lahan Hutan Jadi Cuan, Petani Tirtomoyo Sukses Raup Rupiah dari Budidaya Lada
Lama-kelamaan, koleksi barang antik Anto semakin menumpuk hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyeriusi bidang ini.
Kini, kediamannya telah disulap menjadi sebuah mini galeri yang menyimpan beragam benda bersejarah, mulai dari radio kuno, jam antik, keramik, uang kuno, hingga guci yang tersusun rapi.
Dunia barang antik memang memiliki pasarnya sendiri. Anto mengungkapkan bahwa nilai sebuah barang sangat bergantung pada tingkat kelangkaannya.
Semakin langka dan memiliki nilai sejarah yang kuat, maka harganya pun akan semakin melambung tinggi.
“Kalau yang langka-langka, misalnya uang kuno nominal besar, biasanya mahal. Peninggalan zaman Belanda dulu ada yang harganya mencapai puluhan juta, ratusan juta, bahkan hingga miliaran rupiah,” ujar Anto.
Ia mengaku sudah terbiasa dengan nilai transaksi yang mencapai puluhan juta rupiah untuk benda-benda yang bagi orang awam terlihat sepele, namun sangat berharga di mata kolektor yang memahaminya.
Bagi Anto, menggeluti dunia barang antik memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar mencari keuntungan materi. Aktivitasnya ini merupakan bentuk nyata upaya penyelamatan benda-benda bersejarah agar tidak hilang ditelan zaman.
BACA JUGA: Tembus Pasar Kalimantan, Peci Buatan Warga Alian Kebumen Laris Manis Menjelang Ramadan
Anto bercerita bahwa ia sering mendapatkan barang antik dari masyarakat yang sebenarnya berniat membuang benda tersebut karena dianggap tidak berguna.
Alih-alih membiarkannya hancur, Anto memilih untuk membeli dan merawat benda-benda tersebut agar nilai sejarahnya tetap terjaga.
Kini, nama Anto telah menjadi rujukan utama bagi para kolektor barang antik, baik lokal maupun dari luar daerah.
Melalui pemanfaatan media sosial, ia terus memperluas jaringan dan wawasannya tentang benda-benda kuno yang memiliki nilai seni dan sejarah tinggi.






