Geger Film “Pesta Babi”: Tangis Hutan Papua dan Ironi Proyek Pangan Nasional

Film Pesta Babi
Film "Pesta Babi"/ credit:Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Yayasan Bentala Pusaka, Jubi.id, Greenpeace Indonesia, dan LBH Papua Merauke

Salah satu sorotan paling berani dalam dokumenter investigatif ini adalah penelusuran rekam jejak aktor bisnis di balik Proyek Strategis Nasional (PSN) food estate di Merauke. Nama Andi Syamsuddin Arsyad, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Haji Isam, mencuat ke permukaan. Melalui gurita bisnisnya, Jhonlin Group, pengusaha asal Kalimantan Selatan ini memimpin proyek ambisius cetak 1 juta hektare sawah dengan dalih mewujudkan swasembada pangan.

BACA JUGA: Suara Hewan Kini Disulap Jadi Peta Geometri, Jalan Pintas Buat ‘Ngobrol’ Sama Anabul?

Skala proyek ini sungguh mencengangkan. Film merekam bagaimana sebanyak 2.000 unit ekskavator dan alat berat didatangkan secara masif untuk merobek jantung hutan dan rawa Papua demi mempercepat pencetakan sawah. Namun, ambisi ini menabrak dinding penolakan. Di Kampung Wanam, Merauke, masyarakat adat bangkit melawan. Puncaknya pada Agustus 2024, warga menancapkan salib merah sebagai simbol perlawanan dan duka cita ekologis, menuduh proyek tersebut secara brutal merusak ekosistem dan menginjak-injak hak ulayat tanah leluhur mereka.

Film Pesta Babi
Ilustrasi Proyek PSN dan Kontroversi Film ‘Pesta Babi’ credit: Ai Gen Prompt by Gita Kurniawan
Perang Narasi: Alarm Darurat Lingkungan Melawan Ambisi Kemajuan Ekonomi

Cermin investigasi ini terlampau terang. Ada yang bersorak menyambut kebenaran, ada pula yang sinis, defensif, dan memilih buang muka.

Hadirnya narasi sekuat Pesta Babi memicu benturan keras antara dua kubu. Bagi kubu yang pro, film ini adalah mahakarya jurnalisme visual yang mengungkap darurat ekologis dan membela hak asasi manusia. Para pegiat lingkungan dan pengamat kebijakan memuji keberanian film ini.

“Dokumenter ini adalah ujian nyata bagi nalar kritis kita. Ia membongkar bagaimana jargon ketahanan pangan dan transisi energi sering kali menjadi kedok bagi perampasan ruang hidup masyarakat adat serta deforestasi yang difasilitasi oleh instrumen negara,” ujar seorang pengamat kebijakan dari koalisi masyarakat sipil yang menyoroti betapa rentannya ekosistem Papua akibat pusaran oligarki. Kubu ini berargumen bahwa tidak ada pembangunan sejati jika ia menumbalkan kelestarian alam dan menyingkirkan manusia asli dari tanah kelahirannya.

BACA JUGA: Rahasia Stiker Warna-Warni di UGD: Bukan Sekadar Hiasan, Ini Kode Penentu Nyawa!

Sebaliknya, di kubu kontra, film ini dianggap sebagai narasi yang bias, provokatif, dan antikerucut kemajuan. Para pendukung proyek pemerintah berpendapat bahwa cetak sawah jutaan hektare adalah langkah mutlak demi mengamankan pasokan pangan nasional yang kian terancam krisis global. Mereka menuding Pesta Babi hanya mengeksploitasi sudut pandang penderitaan warga tanpa mau melihat urgensi jangka panjang dari pembangunan infrastruktur ekonomi di Papua.

Sikap para elite politik pun menjadi sorotan tajam. Tokoh nasional asal Papua, Natalius Pigai, menjadi salah satu contoh bagaimana isu ini direspons di tingkat atas. Berdasarkan pantauan media, meski mengakui telah menonton film tersebut, Pigai bersikap sangat dingin dan “ogah menanggapi” lebih jauh perihal kontroversinya. Sikap irit bicara dari para pemangku kepentingan ini sering kali ditafsirkan publik sebagai bentuk kehati-hatian politis tingkat tinggi, guna meredam narasi perlawanan agar tidak membesar menjadi bola salju di ruang publik.

Uji Daya Kritis Anda: Jangan Cuma Ikut-ikutan Ribut, Tonton dan Buktikan Sendiri!

Daripada sekadar berdebat kusir soal siapa yang benar di kolom komentar, inilah saatnya Anda mengambil sikap berdasarkan fakta.

Berita terkait