JIKA Anda pernah dibuat tercengang, marah, atau merenung panjang setelah menonton dokumenter investigasi, bersiaplah untuk gelombang berikutnya yang jauh lebih menghentak. Publik Indonesia tentu belum lupa bagaimana film Sexy Killers sukses menelanjangi gurita bisnis batu bara milik elite politik menjelang pemilu, atau bagaimana Dirty Vote menjadi “buku panduan” masyarakat dalam mengawasi indikasi manipulasi suara.
Film-film dokumenter tersebut bukan lagi sekadar tontonan, melainkan pelatuk diskusi panas yang membongkar realitas pahit di balik manisnya janji penguasa.
Kini, tongkat estafet dokumenter kontroversial itu dilanjutkan oleh sebuah karya berani bertajuk Pesta Babi (2026). Besutan sutradara Cypri Paju Dale dan Dandhy Dwi Laksono ini tidak mengambil latar di hiruk-pikuk ibu kota, melainkan terbang jauh ke ufuk timur Indonesia tepatnya di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, Provinsi Papua Selatan.
BACA JUGA: Jalan Banyak “Kolam”, Perokok Sumbang Pajak Gila-gilaan: ke Mana Uang Kita Lari?
Film berdurasi 1,5 jam ini sukses membelah opini publik dan memicu perdebatan sengit berskala nasional. Sebenarnya, tragedi apa yang sedang disembunyikan di balik rimbunnya hutan Papua? Mari kita bedah lebih dalam.

Ledakan Baru Usai ‘Sexy Killers’: Ketika Ruang Hidup Masyarakat Adat Tergilas
Bagi yang belum menonton, bersiaplah menghadapi ironi. Ini bukan sekadar film tentang alam, ini adalah rekaman nyata invasi proyek raksasa yang membajak tanah leluhur.
Sejak menit pertama, Pesta Babi langsung menyentak emosi penonton dengan menyoroti konflik agraria yang masif. Hutan adat, sungai, dan sumber pangan tradisional yang selama ratusan tahun dihidupi oleh suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu kini berada di ujung tanduk. Ruang hidup mereka terancam terhapus dari peta akibat pembukaan lahan seluas 2,5 juta hektare atas nama proyek agribisnis dan lumbung pangan (food estate).
Judul Pesta Babi sendiri dipilih dengan makna filosofis yang sangat tajam. Secara kultural, “Pesta Babi” adalah ritual adat warga lokal yang melambangkan rasa syukur dan persaudaraan. Namun, dalam film ini, tradisi luhur tersebut dijadikan metafora yang menohok untuk menggambarkan keserakahan.
BACA JUGA: Parah, Warga Indonesia Paling Mager di Dunia
Di saat masyarakat adat kehilangan tanahnya, para pemodal raksasa dan pemangku kekuasaan justru sedang “berpesta pora” menikmati keuntungan di atas penderitaan warga lokal. Tidak hanya hilangnya hutan, dokumenter ini juga menangkap realitas pahit militerisasi, di mana kehadiran aparat yang mendukung proyek-proyek ini justru memicu ketegangan dan ketakutan di tengah masyarakat adat.
Jejak Haji Isam dan 2.000 Ekskavator yang Mengubah Wajah Kampung Wanam
Pembangunan atau perampasan? Fakta di lapangan menunjukkan ribuan alat berat datang tak diundang, memaksa masyarakat adat menancapkan salib perlawanan.






