BERITAKEBUMEN.COM – Barisan pohon asam jawa yang rindang sering kali dijumpai masyarakat saat melintasi jalur transportasi peninggalan era kolonial di Indonesia.
Tanaman bernama ilmiah Tamarindus indica ini ternyata menyimpan sejarah panjang.
Pemerintah kolonial Belanda sengaja menanamnya karena memiliki fungsi vital yang dirancang secara matang, melampaui sekadar penghias jalan.
Salah satu wilayah yang menjadi saksi bisu penanaman masif ini adalah jalur Anyer-Panarukan.
BACA JUGA: 2.570 Lentera Perdamaian Terangi Langit Borobudur pada Puncak Waisak 2570 Buddhis
Jalur legendaris sepanjang 1.000 kilometer tersebut dibangun pada masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.
Merujuk buku Rumah di Tanah Rempah, pemilihan pohon ini didasarkan pada karakter fisiknya yang kuat, berumur panjang, dan adaptif di berbagai cuaca ekstrem.
Tajuknya yang lebar dan daunnya yang rimbun menjadi peneduh krusial bagi para pekerja hingga pasukan militer yang bermobilisasi pada masa lalu.
Selain peneduh, pohon asam jawa memiliki manfaat ekologis yang besar.
Buku Hutan Kota Masa Depan Indonesia mencatat bahwa tanaman ini mampu menyerap air secara optimal dan memproduksi oksigen alami bagi satwa liar.
Sistem perakarannya yang menghujam dalam juga berfungsi mengikat tanah, sehingga efektif mencegah erosi dan tanah longsor di tepi jalan raya.
BACA JUGA: Bukan Kebetulan, Ini Alasan Manusia Bisa Jatuh Cinta Menurut Fahruddin Faiz
Perencanaan matang dari masa kolonial ini terbukti menciptakan warisan hijau yang berdampak positif jangka panjang.
Hingga hari ini, manfaat lingkungan dan perlindungan infrastruktur tersebut masih terus dirasakan oleh generasi modern.






