Rupiah Tembus Rp17.500, Efek Domino Mulai Mengancam Nasib UMKM

Rupiah menyentuh Rp17.500 per dolar AS, memicu tekanan terhadap daya beli masyarakat dan UMKM. Ekonom mengingatkan regulasi e-commerce berlebihan dapat memperburuk kondisi ekonomi digital. (Foto: Ilustrasi AI)

BERITAKEBUMEN.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kini menyentuh level Rp17.500. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius terhadap nasib Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tanah air.

Dalam podcast di kanal YouTube Rhenald Kasali, Ekonom Universitas Indonesia, Prof. Telisa Aulia Falianty, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah memicu inflasi barang impor.

Berita Lainnya

Sekitar 70 hingga 80 persen bahan baku industri manufaktur nasional masih berasal dari impor. Mulai dari plastik, komponen obat, hingga sektor energi mengalami kenaikan biaya produksi yang akhirnya membebani konsumen.

Fenomena ini mengubah perilaku belanja masyarakat. Pusat elektronik dan kawasan grosir seperti Tanah Abang mulai sepi.

Sebaliknya, industri makanan dan minuman tumbuh 13 persen. Kedai kopi ramai dikunjungi sebagai pilihan hiburan murah.

Masyarakat kelas bawah pun beralih ke sachet economy, membeli kebutuhan pokok dalam kemasan kecil harian.

Di sektor digital, pelaku UMKM juga dihadapkan pada rencana regulasi e-commerce yang dinilai berlebihan.

BACA JUGA: 6.271 Koperasi Merah Putih di Jawa Tengah Sudah Beroperasi, Tertinggi Nasional

Prof. Telisa memperingatkan bahwa intervensi tanpa kajian matang dapat memicu distorsi pasar. Platform digital berpotensi memangkas promo atau membebani konsumen dengan biaya tambahan.

Beberapa pelaku UMKM mulai mencoba berjualan mandiri melalui situs web pribadi.

Namun langkah ini berisiko tinggi karena membutuhkan modal besar dan sulit bersaing tanpa dukungan logistik serta strategi pemasaran digital.

Para ahli menekankan bahwa pemerintah perlu bertindak sebagai fasilitator, bukan sekadar pembuat aturan top-down.

Kombinasi kurs rupiah yang lemah dan regulasi berlebihan ibarat obat dengan dosis keliru.

Alih-alih menyembuhkan, kebijakan yang overdosis justru membahayakan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional.

Berita terkait