SRUWENG, Beritakebumen.com – Ratusan pelaku seni tradisi Jamjaneng dari berbagai wilayah di Kabupaten Kebumen berkumpul di GOR Desa Karangsari, Kecamatan Sruweng, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Pertemuan ini digelar untuk mengikuti sosialisasi pementasan sekaligus mematangkan agenda pertunjukan kolosal yang bakal melibatkan sekitar 400 penabuh.
Acara menghadirkan dua narasumber, yakni Ketua Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kebumen Ki Muhammad Basikun Mualim (Ki Petruk) dan Maestro Jamjaneng Kebumen BE Susilohadi, yang juga menjabat Ketua Umum Paguyuban Seni Tradisional Jamjaneng Kebumen (Pastrajakkeb).
BACA JUGA: 21 Warisan Budaya Jateng Resmi Berstatus WBTbI 2026, Dua di antaranya dari Kebumen
Dalam pemaparannya, Ki Petruk mengingatkan bahwa Jamjaneng resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Mendikbudristek sejak 7 Desember 2021.
Menurutnya, status pengakuan tersebut harus dibarengi dengan aksi nyata di lapangan.
“Pengakuan merupakan awal, sedangkan pelestarian dan pemajuan adalah tanggung jawab bersama,” ujar Ki Petruk saat memberikan arahan.
Ia menegaskan bahwa pemajuan kebudayaan harus bertumpu pada seni yang benar-benar hidup di tengah warga, bukan sekadar catatan di atas kertas.
Kesenian perlu terus dipraktikkan, diwariskan, dan dikembangkan melalui kolaborasi lintas pihak.
“Kebudayaan yang hidup adalah kebudayaan yang terus diwariskan,” tambahnya.
Sementara itu, Maestro Jamjaneng Kebumen BE Susilohadi menyampaikan bahwa sosialisasi ini membekali para peserta dengan materi teknis seputar pakem cara menabuh terbang, sekaligus menjadi ajang persiapan menuju pementasan kolosal.
“Pementasan Jamjaneng tersebut nantinya akan dimainkan oleh 20 grup Jamjaneng atau sekitar 400 orang pemain,” jelas BE Susilohadi.
Gagasan menggelar pementasan kolosal ini merupakan obsesi BE Susilohadi sejak ia dipercaya memimpin Pastrajakkeb lebih dari dua tahun lalu.
BACA JUGA: Lestarikan Budaya Lokal, Sanggar Langen Beksa Pentaskan Sendratari Wayang Golek Menak
Pementasan mendatang menjadi kali kedua setelah pagelaran pertama sukses dihelat di GOR Pandansari, Kecamatan Sruweng, pada 2025. Jumlah pemain yang dilibatkan tahun ini dirancang jauh lebih banyak.
Untuk menjaga keberlanjutan tradisi tersebut, ia juga menaruh harapan besar pada keterlibatan generasi muda Kebumen.
“Kedepan dalam rangka regenerasi, kami berharap Pastrajakkeb memiliki kesempatan untuk melaksanakan kegiatan Jamjaneng bagi generasi muda,” tuturnya.






