PEJAGOAN, Beritakebumen.com – Berawal dari kegiatan pendidikan nonformal, Zumroah, warga Jalan Gelora, Desa Pejagoan, Kecamatan Pejagoan, Kebumen, berhasil mengembangkan usaha camilan tradisional yang kini telah bertahan hampir 20 tahun.
Melalui merek Ngudi Aksara, ia terus memproduksi untir-untir dan keripik bawang sekaligus melibatkan warga sekitar dalam kegiatan produksi.
Perjalanan usaha Ngudi Aksara dimulai pada 2006. Saat itu, Zumroah aktif sebagai pengurus program pendidikan nonformal Kejar Paket A bernama “Ngudi Aksara”.
Setelah para peserta menyelesaikan pembelajaran membaca dan menulis, mereka mendapat pelatihan keterampilan praktis. Salah satunya adalah membuat camilan tradisional berupa untir-untir.
BACA JUGA: Marning Indra Jaya, UMKM Kebumen yang Sukses Tembus Pasar Sumatra hingga Papua
Seiring berakhirnya program Kejar Paket A, kegiatan kelompok tersebut perlahan berhenti. Minat peserta juga berkurang karena adanya kendala dalam pemasaran produk.
Zumroah kemudian memilih untuk melanjutkan keterampilan tersebut bersama keluarganya. Produksi camilan tetap dilakukan secara mandiri dengan mempertahankan nama Ngudi Aksara sebagai merek dagang.
Nama tersebut sekaligus menjadi pengingat atas kegiatan pendidikan yang pernah menjadi awal perjalanan usaha.
Hingga kini, Ngudi Aksara memproduksi dua produk utama, yakni kue untir-untir dan keripik bawang.
BACA JUGA: Kreatif! Warga Kebumen Ubah Live TikTok Colour Ball Jadi Lapangan Kerja Desa
Zumroah mempertahankan teknik pembuatan secara tradisional dan memperhatikan kebersihan dalam setiap tahapan produksi.
Camilan tersebut dibuat tanpa bahan pengawet dengan karakter rasa gurih dan tekstur renyah.
Harga produk Ngudi Aksara bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah, menyesuaikan ukuran kemasan serta jumlah pesanan.
Untuk memenuhi kebutuhan pasar harian, produksi rata-rata mencapai sekitar 3 hingga 5 kilogram bahan per hari. Pada hari biasa, kegiatan produksi dibantu oleh karyawan tetap.
Kapasitas produksi meningkat ketika permintaan mengalami lonjakan, terutama saat hari besar keagamaan dan menjelang Lebaran. Pada periode tersebut, produksi dapat mencapai puluhan kilogram.
Untuk memenuhi pesanan, Zumroah melibatkan warga sekitar. Jumlah tenaga tambahan yang dirangkul bisa mencapai 10 hingga 12 orang ketika aktivitas produksi sedang padat.
BACA JUGA: Hobi Bougenville Berbuah Cuan, Warga Kebumen Raup Jutaan Rupiah dari Tanaman Hias
Bagi Zumroah, perjalanan hampir dua dekade bersama Ngudi Aksara menjadi upaya untuk terus mempertahankan keterampilan membuat camilan tradisional.
Usaha tersebut juga membuka kesempatan kerja bagi warga sekitar sekaligus menjaga produk lokal tetap bertahan dan dikenal di tengah masyarakat.






