Bukan Kebetulan, Ini Alasan Manusia Bisa Jatuh Cinta Menurut Fahruddin Faiz

Jatuh cinta adalah anugerah. Fahruddin Faiz jelaskan cara rawat rasa cinta sekaligus menjadikannya sarana untuk mengalahkan ego diri. (Foto: Ilustrasi AI)

BERITAKEBUMEN.COM – Jatuh cinta merupakan pengalaman yang akrab dalam kehidupan manusia. Namun, di balik perasaan tersebut tersimpan makna filosofis dan spiritual yang mendalam.

Hal itu disampaikan oleh pakar filsafat, Fahruddin Faiz, dalam dialog interaktif di kanal YouTube SAY Inspiratif.

Berita Lainnya

Menurut Fahruddin Faiz, cinta memiliki hubungan erat dengan filsafat. Ia menjelaskan bahwa kata filsafat berasal dari istilah philo atau philia yang berarti cinta.

Dalam tradisi filsafat maupun tasawuf, cinta dipandang sebagai salah satu nilai tertinggi dalam kehidupan manusia.

BACA JUGA: Menentukan Pasangan Hidup, Ini Tanda Jodoh Menurut Fahruddin Faiz

Ia menerangkan bahwa istilah “jatuh cinta” menggambarkan hadirnya rasa cinta yang muncul secara alami dan berada di luar kendali manusia.

Seseorang tidak dapat menentukan kapan maupun kepada siapa perasaan tersebut tumbuh. Dalam pandangan agama, kondisi itu merupakan anugerah yang diberikan oleh Tuhan.

Meski demikian, Fahruddin menegaskan bahwa jatuh cinta hanyalah tahap awal. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang merawat dan mengembangkan perasaan tersebut.

Mengacu pada pemikiran psikolog dan filsuf Robert Sternberg, cinta yang utuh dibangun oleh tiga unsur utama, yakni passion atau hasrat, intimacy atau kedekatan emosional, serta commitment atau komitmen jangka panjang.

Ia menambahkan, cinta yang dipelihara dengan baik dapat berkembang dari sekadar hasrat menjadi kepedulian yang mendalam. Proses ini juga dapat tumbuh melalui kebiasaan dan interaksi yang berkelanjutan.

BACA JUGA: Tafsir Puasa Modern ala Dr Fahruddin Faiz: Antara Syariat, Hakikat dan Dampaknya pada Kehidupan

Dalam penjelasannya, Fahruddin Faiz juga menyoroti peran cinta sebagai sarana untuk mengendalikan ego.

Saat seseorang jatuh cinta, perhatian tidak lagi terpusat pada diri sendiri, melainkan pada kebahagiaan orang yang dicintai.

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga untuk memahami kehidupan dan membangun kedewasaan batin yang lebih mendalam.

Berita terkait