Tafsir Puasa Modern ala Dr Fahruddin Faiz: Antara Syariat, Hakikat dan Dampaknya pada Kehidupan

Makna puasa sejati menurut Dr. Fahruddin Faiz bukan sekadar menahan lapar, tapi perjalanan spiritual naik kelas mendekatkan diri kepada Tuhan. (Foto: yourillustration/Pixabay)

Beritakebumen.com – Puasa Ramadan sering dipahami sebagai kewajiban menahan lapar dan dahaga.

Namun di balik ritual tahunan itu, tersimpan dimensi spiritual yang jauh lebih dalam, sebuah kesempatan langka untuk bermanis-manis dengan Sang Pencipta.

Dalam kajian Ngaji Filsafat yang disampaikan Dr. Fahruddin Faiz, puasa tidak sekadar menahan godaan perut dari fajar hingga magrib.

Lebih dari itu, ibadah ini menjadi sarana transformasi diri, menaikkan derajat manusia dari sekadar makhluk biologis menuju level spiritual yang lebih tinggi.

BACA JUGA: Cegah Lemas Saat Berpuasa, Begini Cara Atur Komposisi Nutrisi Sahur yang Tepat Menurut Ahli

Menjinakkan Nafsu

Dr. Fahruddin mengupas pemikiran Imam Al-Ghazali tentang posisi unik manusia. Berada di antara hewan dan malaikat, manusia diberi akal sekaligus hawa nafsu.

Ketika nafsu menguasai, manusia terperosok ke level hewani. Namun saat mampu menaklukkannya, ia naik mendekati level malaikat—makhluk yang paling dekat dengan Allah.

“Bukan berarti kita berubah wujud menjadi bersayap,” jelasnya. “Tapi kita menempati posisi spiritual yang dekat dengan Tuhan.”

Pemikiran menarik yang disampaikan Dr. Fahruddin adalah filosofi bahwa setiap perintah ibadah sejatinya bentuk kerinduan Allah kepada hamba-Nya.

Tuhan ingin mendekat, namun hawa nafsu kerap menjadi penghalang dalam hubungan tersebut.

Ramadan selama sebulan penuh pun diibaratkan sebagai momen bulan madu. Setiap detiknya adalah undangan untuk menikmati kemesraan spiritual, membangun keintiman dengan Tuhan tanpa gangguan ambisi duniawi yang berlebihan.

BACA JUGA: Ramadhan 2026, dr Zaidul Akbar Ungkap Menu Buka Puasa Sehat Bebas Lemas

Puasa Kulit vs Puasa Isi

Dr. Fahruddin mengkritik praktik puasa yang hanya berhenti pada dimensi lahiriah. Ia mengutip analogi Imam Al-Ghazali tentang orang yang berwudu tetapi airnya tidak benar-benar membasuh wajah. Gerakannya ada, namun esensinya luput.

Puasa ideal adalah keseimbangan antara syariat dan hakikat. Menahan lapar memang pintu masuk, tapi jangan sampai berhenti di situ.

Membersihkan hati dari dengki, menjaga lisan dari dusta, dan mengendalikan pikiran dari prasangka buruk adalah “isi” yang tak boleh dilupakan.

Bagaimana mengukur puasa seseorang berhasil? Dr. Fahruddin menyebutkan, bukan saat Ramadan berlangsung, melainkan setelah Idulfitri tiba.

Tiga ciri utama orang yang mencapai takwa, rasa hati-hati dalam hidup, semangat taat beribadah, dan hati yang bersih dari dosa.

Secara nyata, keberhasilan itu tampak dari akhlak mulia. Karakter semakin pemurah, penyayang, dan mampu mengendalikan keinginan duniawi dalam batas kesederhanaan.

BACA JUGA: Auto Kuat Seharian! dr Zaidul Akbar Ungkap Rahasia Puasa Lebih Kuat Cukup dengan Bahan Dapur Ini

Obat Jiwa dan Disiplin Diri

Di akhir paparannya, Dr. Fahruddin mengutip berbagai tokoh. Rumi menyebut puasa sebagai obat pertama bagi jiwa. Plato menggunakannya untuk meningkatkan efisiensi mental dan fisik.

Intinya sama, puasa adalah metode mengenali, menguasai, dan mendisiplinkan diri.

Melalui pemahaman ini, puasa tak lagi menjadi beban rutinitas tahunan. Ia adalah perjalanan spiritual yang mentransformasi kualitas hidup, mengantarkan manusia pada kemerdekaan sejati: tidak bergantung pada selain Tuhan.

Berita terkait