Kenapa Orang Mudah Percaya Hoaks? Guru Besar UI Ungkap 3 Pola Pikir yang Jadi Penyebabnya

Ilustrasi penyebaran hoaks kesehatan di media sosial. Masyarakat perlu memeriksa bukti ilmiah dan sumber informasi sebelum mempercayai atau membagikan suatu klaim. (Foto: Ilustrasi AI)

BERITAKEBUMEN.COM – Hoaks kesehatan mudah menyebar di media sosial karena banyak orang cenderung mempercayai informasi yang populer, terdengar ilmiah, dan menawarkan solusi instan.

Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Profesor Agustino Zulys, menjelaskan tiga pola pikir yang membuat masyarakat rentan terjebak informasi menyesatkan.

Bacaan Lainnya

Fenomena klaim kesehatan yang tidak masuk akal masih kerap menarik perhatian publik.

Mulai dari anggapan bahwa minyak pelumas mesin dapat meningkatkan stamina hingga penggunaan larutan soda kue untuk menyembuhkan penyakit kronis.

BACA JUGA: Konsultan Hukum Tegaskan Bupati Kebumen Tak Miliki Dapur SPPG, Isu 100 Titik Disebut Hoaks

Berbagai informasi tersebut beredar dengan narasi yang meyakinkan meski tidak didukung bukti ilmiah yang memadai.

Menurut Profesor Agustino Zulys, ada tiga pola pikir yang membuat seseorang mudah menerima hoaks. Pertama, menganggap popularitas sebagai ukuran kebenaran.

Informasi yang banyak dibagikan atau mendapat perhatian luas sering kali dianggap benar tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Kedua, munculnya ilusi saintifik atau kesan ilmiah semu. Informasi menyesatkan kerap menggunakan istilah kimia, rumus rumit, dan bahasa teknis untuk membangun kepercayaan pembaca.

Penggunaan istilah ilmiah tersebut dapat membuat sebuah klaim terlihat meyakinkan, meskipun dasar pembuktiannya lemah.

Ketiga, bias kognitif yang membuat manusia cenderung menyukai informasi cepat dan solusi praktis.

Kecenderungan ini dimanfaatkan oleh penyebar hoaks yang menawarkan jawaban sederhana untuk persoalan kompleks, termasuk masalah kesehatan yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis.

Padahal, penelitian ilmiah, khususnya di bidang kesehatan, memerlukan proses pembuktian yang terstruktur.

Tahapannya dapat mencakup perumusan hipotesis, pengujian in vitro atau di luar organisme hidup, pengujian in vivo pada organisme hidup, hingga uji klinis sebelum suatu intervensi dapat dinilai berdasarkan keamanan dan efektivitasnya.

Klaim yang menjanjikan hasil instan tanpa bukti memadai patut diwaspadai. Semakin luar biasa manfaat yang dijanjikan, semakin penting bagi masyarakat untuk memeriksa dasar ilmiah dan kualitas bukti yang menyertainya.

BACA JUGA: Viral Isu Teror Pocong di Kebumen, Kapolres: Itu Hoaks Rekayasa AI, Warga Jangan Panik

Campuran Fakta dan Narasi Menyesatkan

Salah satu alasan hoaks sulit dikenali adalah kemampuannya mencampurkan fakta ilmiah dengan kesimpulan yang keliru.

Informasi yang disampaikan secara dramatis dan penuh keyakinan dapat terlihat masuk akal, terutama bagi orang yang tidak memiliki cukup pengetahuan untuk memeriksa konteksnya.

Contohnya adalah klaim bahwa monosodium glutamat (MSG), atau penyedap rasa, dapat merusak sel otak.

Narasi semacam ini dapat merujuk pada penelitian yang benar-benar dilakukan, tetapi mengabaikan konteks penting, seperti jenis subjek penelitian dan dosis yang digunakan.

Dalam contoh yang disampaikan Agustino, penelitian terhadap bayi tikus dengan paparan dosis ekstrem digunakan untuk mendukung klaim mengenai konsumsi MSG pada manusia dalam kondisi normal.

Padahal, hasil penelitian tidak dapat langsung digeneralisasi ke situasi yang berbeda tanpa mempertimbangkan metode, dosis, dan relevansi bukti yang tersedia.

Karena itu, membaca hasil penelitian secara utuh menjadi langkah penting untuk membedakan temuan ilmiah dari interpretasi yang menyesatkan.

Ego Membuat Hoaks Sulit Diluruskan

Tantangan berikutnya muncul ketika seseorang sudah terlanjur mempercayai informasi yang salah.

Meski bantahan dari ahli telah tersedia, sebagian orang tetap mempertahankan keyakinannya karena mengakui kesalahan dapat terasa tidak nyaman.

Keyakinan yang telanjur melekat membuat seseorang cenderung menolak informasi yang bertentangan dengan pandangannya. Akibatnya, koreksi berbasis bukti tidak selalu berhasil mengubah kepercayaan yang sudah terbentuk.

Di sisi lain, penyebaran hoaks dapat memberikan keuntungan bagi pembuat konten, mulai dari peningkatan interaksi dan popularitas hingga manfaat ekonomi.

Sementara itu, masyarakat berisiko menanggung dampaknya, terutama ketika informasi palsu memengaruhi keputusan kesehatan atau mendorong penggunaan metode pengobatan yang tidak terbukti aman.

Untuk menghindari hoaks, masyarakat dapat menerapkan tiga langkah sederhana sebelum mempercayai atau membagikan informasi.

Pertama, tanyakan bukti konkret yang mendukung klaim tersebut. Kedua, periksa apakah penjelasannya masuk akal berdasarkan pengetahuan ilmiah dan bukti yang tersedia.

BACA JUGA: HPN 2026, PWI Kebumen Siap Jadi Penjernih Informasi di Tengah Gempuran Hoaks AI

Ketiga, pastikan klaim tersebut mendapat dukungan dari ahli yang kompeten di bidang terkait.

Khusus informasi kesehatan, masyarakat perlu memeriksa sumber penelitian dan kualitas bukti yang digunakan.

Publikasi dalam jurnal ilmiah yang melalui proses penelaahan sejawat (peer review) dapat menjadi salah satu acuan penilaian, meskipun status publikasi itu sendiri tidak otomatis menjamin bahwa setiap kesimpulan benar.

Dengan membiasakan verifikasi sebelum mempercayai informasi, masyarakat dapat mengurangi risiko terjebak hoaks dan mengambil keputusan berdasarkan bukti yang lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Pos terkait