BERITAKEBUMEN.COM – Tubuh manusia memiliki mekanisme alami untuk membersihkan sel-sel yang rusak melalui proses yang dikenal sebagai autofagi.
Mekanisme ini berperan dalam mendaur ulang komponen sel yang sudah tidak berfungsi sehingga membantu menjaga kesehatan, memperlambat penuaan, dan menekan risiko berbagai penyakit degeneratif.
Autofagi merupakan sistem pembersihan sel yang menjadi fokus penelitian ilmuwan Jepang, Yoshinori Ohsumi, hingga meraih Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada 2016.
Proses ini mulai aktif ketika tubuh tidak menerima asupan makanan dalam beberapa waktu.
BACA JUGA: Jangan Asal Rebahan, Ini 5 Posisi Tidur Terbaik untuk Tubuh Bugar dan Sehat
Penurunan kadar gula darah dan insulin akan mengurangi aktivitas protein mTOR.
Sehingga sel mulai membentuk autofagosom yang bertugas mengumpulkan protein rusak, mitokondria yang tidak lagi efisien, serta mikroorganisme yang masuk ke dalam sel.
Selanjutnya, komponen tersebut diurai oleh lisosom dan dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku maupun sumber energi.
Berbagai penelitian menunjukkan manfaat autofagi bagi kesehatan.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Metabolism pada 2019 menemukan peningkatan tanda-tanda autofagi pada jaringan otot setelah sekitar 18 jam berpuasa.
Penelitian lain dari University of Southern California juga melaporkan bahwa puasa lebih lama dapat merangsang regenerasi sel imun melalui aktivasi sel punca.
Untuk memulai, seseorang dapat menerapkan puasa selama 12 jam sebelum meningkatkannya menjadi metode puasa intermiten 16:8.
BACA JUGA: 10 Tips Ade Rai Turunkan Berat Badan dan Kecilkan Perut Buncit dalam 7 Hari
Selama periode puasa, hanya minuman tanpa kalori seperti air putih, teh herbal, atau kopi hitam tanpa gula yang dianjurkan.
Meski demikian, ibu hamil, ibu menyusui, penderita diabetes, dan individu dengan riwayat gangguan makan disarankan berkonsultasi dengan dokter sebelum menjalani program puasa intermiten agar tetap aman.






