KEBUMEN, Beritakebumen.com – Keluhan “gaji numpang lewat” kerap menghantui pekerja urban di tengah tingginya biaya hidup.
Namun, pakar keuangan menegaskan bahwa pintu menuju kekayaan tidak hanya terbuka bagi mereka yang berpenghasilan besar.
Kunci utamanya justru terletak pada kedisiplinan mengelola uang dan membangun pola pikir finansial yang sehat sejak dini.
Salah satu penghambat utama keuangan adalah fenomena “bocor halus”.
Banyak pekerja merasa kekurangan bukan karena pendapatan sedikit, melainkan karena kebiasaan jajan berlebihan, tergiur diskon barang tidak diperlukan, atau memaksakan gaya hidup demi gengsi.
BACA JUGA: Menjelang Usia 40, Terapkan Lima Langkah Ini Agar Tak Panik Soal Keuangan
Kebocoran kecil ini jika dibiarkan akan menggerus saldo sebelum kebutuhan pokok terpenuhi.
Untuk mengatasinya, pakar menyarankan metode 50/30/20. Alokasikan 50 persen gaji untuk kebutuhan pokok seperti makan dan transportasi, 30 persen untuk keinginan atau gaya hidup, serta 20 persen untuk tabungan dan investasi.
Prinsip terpenting dalam metode ini adalah “bayar diri sendiri dulu”. Segera sisihkan dana tabungan dan investasi saat gaji masuk, jangan menunggu sisa uang di akhir bulan yang sering kali tidak tersisa.
Investasi juga menjadi elemen krusial untuk melindungi nilai uang dari inflasi. Menabung saja tidak cukup karena daya beli terus tergerus.






