SEMARANG, Beritakebumen.com – Fenomena bediding diperkirakan mulai terjadi di Jawa Tengah pada akhir Juni 2026 seiring menguatnya musim kemarau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk bersiap menghadapi penurunan suhu udara yang signifikan, terutama pada malam hingga dini hari.
Bediding merupakan kondisi alam saat suhu udara terasa lebih dingin dari biasanya dan lazim terjadi selama musim kemarau.
Analis Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Zauyik, menyebut pergerakan atmosfer menunjukkan musim kemarau semakin dominan.
Perbedaan suhu antara siang yang panas dan malam yang dingin menjadi indikator utama.
Gejala ini terlihat jelas di dataran tinggi Dieng, Banjarnegara. Data Automatic Weather Station (AWS) mencatat suhu maksimum berkisar 19–20 derajat Celcius pada awal Juni 2026.
Sementara itu, suhu minimum turun drastis hingga 7–8 derajat Celcius pada malam hari.
BACA JUGA: Mulai Juni 2026, Jateng Masuk Musim Kemarau: 18 Daerah Terancam Krisis Air, Termasuk Kebumen
Kondisi tersebut dipicu minimnya uap air di atmosfer berdasarkan pantauan Satelit Himawari-9.
Langit yang cenderung cerah mempercepat pelepasan panas bumi pada malam hari, sehingga suhu menjadi lebih dingin.
BMKG memprediksi puncak bediding akan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.
Sepanjang Juni, curah hujan di Jawa Tengah juga terus menurun dan didominasi kategori rendah.
Masyarakat diimbau menjaga kesehatan dengan mengenakan pakaian hangat saat malam hari, mencukupi kebutuhan cairan, serta melindungi kulit dari udara kering.
Hal ini penting untuk menghadapi dampak cuaca dingin selama periode bediding.






