21 Warisan Budaya Jateng Resmi Berstatus WBTbI 2026, Dua di antaranya dari Kebumen

21 warisan budaya Jawa Tengah resmi berstatus WBTbI 2026. Dua di antaranya berasal dari Kebumen, yakni Sate Ambal dan Wayang Golek Menak. (Foto: Diskomdigi Jateng)

SEMARANG, Beritakebumen.com – Sate Ambal dan Wayang Golek Menak resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) 2026.

Penetapan tersebut menambah daftar warisan budaya asal Kabupaten Kebumen yang mendapat pengakuan di tingkat nasional.

Berita Lainnya

Kedua warisan budaya tersebut ditetapkan melalui Sidang Penetapan WBTbI Termin II Tahun 2026 yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan pada September 2026.

Dengan tambahan tersebut, Kabupaten Kebumen kini memiliki enam WBTbI. Keenamnya adalah Tari Cepetan Alas, Jamjaneng, Arab Pegon Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu, Ingkungan Syuran Banyumudal, Sate Ambal, dan Wayang Golek Menak.

BACA JUGA: Ada Ritual Cowongan Pantai Heppii Kebumen, Tradisi Minta Hujan Kembali Tampil

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Jawa Tengah Hanung Triyono mengatakan, tahun ini penetapan WBTbI dijadwalkan berlangsung tiga tahap, yakni Juli, September, dan Oktober.

Pada Juli 2026, sebanyak 38 budaya Jawa Tengah telah ditetapkan sebagai WBTbI. Sementara pada September, terdapat 21 warisan budaya yang kembali mendapat penetapan.

Hanung menyebut, total WBTbI Jawa Tengah hingga September 2026 mencapai 281 warisan budaya sejak program tersebut dimulai pada 2013.

Jumlah itu masih berpotensi bertambah karena 27 warisan budaya saat ini dalam proses review untuk penetapan tahap ketiga.

Selain Sate Ambal dan Wayang Golek Menak, 19 budaya lain yang ditetapkan pada tahap kedua berasal dari sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

BACA JUGA: Pura Puspita Sari Kebumen Selesai Dipugar, Siap Digunakan Ibadah Umat Hindu

Hanung berharap status WBTbI dapat memperkuat pelestarian budaya sekaligus mendukung pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif.

Pengetahuan tentang warisan budaya juga diharapkan terus diwariskan oleh para pelaku dan generasi penerus agar tetap hidup di tengah perkembangan teknologi.

Berita terkait