Badai Sempurna! Dolar AS Jebol Rp 17.500, IHSG Berdarah-darah hingga Anggaran Daerah Bisa Ikut ‘Meriang’?

Dolar
Rupiah, IHSG dan kondisi ekonomi Indonesia (Ilustrasi: Ai by @Gita Kurniawan)
Mimpi Buruk Itu Nyata: Rupiah Tumbang, Lantai Bursa Saham Kebakaran!

HARI ini, Selasa, 12 Mei 2026, papan perdagangan valuta asing dan bursa saham kompak menyala merah menyala. Skenario terburuk yang selama ini ditakutkan para pelaku pasar akhirnya pecah. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) resmi mencetak rekor terlemah sepanjang masa (all-time high), menembus level psikologis Rp 17.500 per dolar AS.

Pelemahan ekstrem ini memicu kepanikan instan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Mengutip data perdagangan sesi pertama hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terjun bebas, terkoreksi tajam hingga 2,85% dan terpuruk ke level 6.840. Gelombang panic selling tak terhindarkan.

Berita Lainnya

Para investor asing berbondong-bondong mencatatkan aksi jual bersih (net sell) hingga menyentuh angka Rp 1,5 triliun hanya dalam waktu setengah hari perdagangan. Angka ini bukan sekadar deretan nominal di layar gawai, melainkan sinyal kuat bahwa badai ketidakpastian ekonomi global sedang menghantam lautan finansial Nusantara.

Efek Domino: Dari Minyak Dunia, IHSG Ambrol, hingga Ancaman Defisit Anggaran

Tentu kita bertanya-tanya, apa biang kerok di balik mengamuknya sang Greenback (julukan dolar AS) hingga membuat IHSG berdarah-darah? Berdasarkan penelusuran dari berbagai data pasar keuangan, hantaman ini merupakan hasil kombinasi sentimen eksternal yang brutal. Lonjakan harga minyak mentah dunia di atas US$ 90 per barel mencekik cadangan devisa kita, ditambah lagi para investor kakap yang menarik modalnya (capital outflow) ke aset aman (safe haven) jelang rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS.

BACA JUGA: Klinik Widi Medika Kebumen Buka Lowongan Perawat dan Bidan, Ini Syaratnya

Namun, efek berantainya tidak berhenti di pasar saham. Pelemahan Rupiah ini memberikan tekanan luar biasa pada postur fiskal negara, baik Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Nilai tukar yang anjlok membuat beban pembayaran utang luar negeri serta subsidi energi (BBM) membengkak drastis.

Berita terkait