BERITAKEBUMEN.COM – Di tengah tekanan ekonomi, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), sejumlah produk seperti skincare, kopi kekinian, parfum hingga tiket konser tetap diminati.
Fenomena ketika masyarakat memilih membeli barang yang relatif terjangkau untuk mendapatkan kepuasan emosional ini dikenal sebagai lipstick effect.
IsiIstilah lipstick effect dipopulerkan Leonard Lauder, pimpinan Estée Lauder, pada 2001.
Saat ekonomi Amerika Serikat terguncang setelah serangan 11 September, penjualan lipstik perusahaan tersebut justru meningkat.
BACA JUGA: 8 Sepatu Lokal yang Nyaman untuk Jalan dan Lari Harian, 3 Model Ini Jadi Pilihan Utama
Konsumen yang menahan pembelian barang mahal beralih ke produk berharga lebih rendah sebagai bentuk pemenuhan emosional.
Pola serupa terlihat di Indonesia. Data BPS menunjukkan proporsi pengeluaran rata-rata per kapita untuk pakaian, alas kaki, dan tutup kepala meningkat dari 2,36 persen pada 2024 menjadi 2,5 persen pada 2025.
Sementara pengeluaran untuk perumahan dan fasilitas rumah tangga turun menjadi 25,41 persen.
Peneliti makroekonomi LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menyebut lipstick effect menggambarkan perubahan pola konsumsi ketika daya beli melemah.
Fenomena ini tidak dapat dijadikan indikator tunggal untuk memprediksi resesi. Faktor seperti inflasi, pengangguran, dan kepercayaan konsumen tetap menjadi ukuran utama.
BACA JUGA: Air Es untuk Wajah Makin Populer, Ini 4 Manfaat dan Risiko yang Perlu Diperhatikan
Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad mengingatkan risiko impor ilegal serta penggunaan paylater dan pinjol untuk membiayai konsumsi.
Belanja untuk self reward tetap wajar selama menggunakan pendapatan riil.
Fenomena ini juga dapat menjadi peluang bagi industri dan UMKM lokal jika permintaan masyarakat diarahkan pada produk dalam negeri.






