Sering Pakai Obat Nyamuk? Ini Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

Bahaya obat nyamuk kimia bagi kesehatan, anak dengan asma perlu lebih waspada. (Foto: Ilustrasi AI)

BERITAKEBUMEN.COM – Obat nyamuk menjadi salah satu cara praktis yang banyak digunakan masyarakat untuk mengusir serangga di dalam rumah.

Namun, penggunaan produk anti-nyamuk berbahan kimia secara berlebihan atau tidak mengikuti petunjuk pemakaian dan penyimpanan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Terutama pada anak-anak dengan saluran pernapasan sensitif.

Obat nyamuk tersedia dalam berbagai bentuk, seperti semprot, bakar, elektrik, dan lotion.

Setiap produk memiliki cara kerja yang berbeda dalam melepaskan bahan aktif, tetapi tujuan utamanya sama, yaitu mengusir atau membunuh nyamuk.

BACA JUGA: Musim Kemarau Tiba, Mengapa Populasi Nyamuk Justru Melonjak? Ini Penjelasan BRIN

Sejumlah produk obat nyamuk mengandung bahan aktif golongan karbamat, seperti diklorovinil dimetil fosfat (DDVP) dan propoksur.

Beberapa produk juga menggunakan dietiltoluamid atau DEET. Selain bahan aktif, terdapat zat tambahan seperti pewarna, pengawet, dan pewangi sintetis.

Dokter Spesialis Anak Bambang Supriyanto mengatakan paparan bahan tersebut perlu diwaspadai, khususnya pada anak yang memiliki alergi atau gangguan pada saluran pernapasan.

Asap maupun uap obat nyamuk dapat mengganggu sistem pernapasan dan memicu batuk dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah terhirup.

Pada anak yang memiliki kecenderungan asma, paparan obat nyamuk juga dapat memicu kambuhnya gejala. Sementara pada kulit, bahan tertentu dapat menyebabkan kemerahan, iritasi, ruam, hingga eksim.

Risiko tersebut turut terlihat dalam penelitian LSM Gita Pertiwi terhadap 100 responden berusia 20–60 tahun di Wonogiri, Sukoharjo, Karanganyar, Klaten, Sragen, Solo, dan Ngawi.

BACA JUGA: Nyamuk Makin Banyak Saat Musim Kemarau? Ini 6 Cara Efektif Mengusirnya

Hasilnya, 62 persen responden mengaku mengalami gangguan pernapasan, 52 persen mengalami batuk, 18 persen merasakan sakit kepala, dan 3 persen mengalami bintik-bintik pada kulit.

Koordinator penelitian Gita Pertiwi Yayu Sri Wahyuningsih menyebut paparan pada anak dalam jangka pendek dapat berkaitan dengan sesak napas, alergi, mual, gangguan kulit, hingga pingsan.

Materi penelitian tersebut juga mencatat potensi risiko penyakit serius dalam jangka panjang, termasuk kanker paru-paru dan kanker kulit.

Untuk mengurangi ketergantungan pada obat nyamuk kimia, masyarakat dapat memanfaatkan minyak atsiri dari sejumlah tanaman. Seperti kemangi, thyme, serai, geranium, kayu putih, dan lavender.

Aroma dari tanaman tersebut diketahui tidak disukai nyamuk. Penggunaan minyak alami pada kulit anak tetap perlu dilakukan secara hati-hati, terutama bagi anak dengan kulit sensitif.

Bagi masyarakat yang menggunakan obat nyamuk semprot, Dokter Spesialis Anak Sri Rezeki Hadinegoro menyarankan penyemprotan dilakukan sebelum magrib atau saat senja. Penyemprotan sebaiknya tidak dilakukan ketika penghuni rumah akan tidur.

Setelah ruangan disemprot, seluruh anggota keluarga perlu berada di luar ruangan hingga uap dan bau obat nyamuk menghilang.

Perlindungan tambahan dapat dilakukan dengan mengenakan pakaian lengan panjang, menggunakan lotion anti-nyamuk, dan memasang kelambu saat tidur.

BACA JUGA: PSN di Desa Candimulyo, Ditemukan 12 Rumah Positif Jentik Nyamuk

Pencegahan gigitan nyamuk juga perlu dilakukan dengan mengendalikan tempat berkembang biaknya.

Gerakan 3M, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup wadah penyimpanan air, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat genangan, tetap menjadi langkah penting untuk memutus siklus perkembangbiakan nyamuk.

Penggunaan obat nyamuk secara bijak, disertai menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan perlindungan fisik, dapat membantu mengurangi risiko gigitan nyamuk sekaligus membatasi paparan bahan kimia di dalam rumah.

Berita terkait