Meskipun banyak riwayat menyebutkan Lailatul Qadar jatuh pada sepuluh malam terakhir atau malam ke-21 dan ke-17 Ramadhan, Gus Baha menyarankan agar pencarian dimulai sejak awal bulan.
“Kalau mencari dengan sungguh-sungguh itu ya sejak tanggal satu. Jika baru mencari di tanggal 21, itu namanya pendatang baru atau pemula,” seloroh Gus Baha dengan gaya bicaranya yang khas.
Menurutnya, secara etika, seseorang yang sudah beribadah dengan konsisten sejak hari pertama Ramadhan memiliki potensi lebih besar untuk “dikenali” oleh malaikat sebagai hamba yang benar-benar berniat mencari, bukan sekadar ikut-ikutan saat suasana mulai ramai di akhir bulan.
Menjauhkan Diri dari Maksiat
Selain konsistensi waktu, Gus Baha mengingatkan bahwa syarat utama mendapatkan rahmat Lailatul Qadar adalah menjaga diri dari perbuatan maksiat.
Ia menjelaskan bahwa kelas ibadah setiap orang berbeda-beda; ada yang sanggup beri’tikaf penuh, namun ada juga yang ibadahnya bersifat sederhana.
BACA JUGA: Gus Baha Ingatkan Cara Beragama yang Bahagia dan Rileks, Jangan Jadikan Takdir Sebagai Beban
Bagi masyarakat awam, menjaga diri agar tidak melakukan maksiat selama Ramadhan sudah menjadi pencapaian besar.
Gus Baha memberikan contoh sederhana namun mengena, seperti menjaga keharmonisan rumah tangga dan bersabar dalam menghadapi ujian keseharian sebagai bentuk ibadah yang nyata.
Sebagai penutup, Gus Baha mengajak umat Islam untuk meyakini bahwa Lailatul Qadar adalah bentuk kasih sayang Allah SWT yang luar biasa.
Malam ini tidak perlu dicari dengan perasaan yang berlebihan atau terbebani, melainkan disambut dengan kegembiraan dan ketaatan yang konsisten sejak awal hingga akhir Ramadhan.






