Beritakebumen.com – KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau Gus Baha, kembali membedah kedalaman tauhid dengan logika tasawuf yang segar dan taktis.
Dalam tausiyah terbarunya, ulama kharismatik ini menekankan bahwa puncak kepuasan seorang hamba adalah makrifatullah, yakni mengenal Allah secara mendalam hingga mengubah perspektif terhadap kehidupan dan kematian.
Gus Baha menjelaskan bahwa alam semesta memiliki kesadaran yang sering luput dari logika manusia.
Ketika seorang saleh wafat, bumi merasa kehilangan dan menangis karena tak ada lagi yang bersujud di atasnya.
Sebaliknya, langit bersuka cita menyambut ruh tersebut. Beliau mematahkan anggapan bahwa bumi hanyalah benda mati.
Jika manusia yang berasal dari tanah bisa bicara, maka sangat mudah bagi Allah memberikan kesadaran serupa pada hamparan bumi.
Inti dari kehidupan adalah sakralitas kalimat Lailahaillallah. Gus Baha menegaskan seluruh desain dunia, termasuk surga dan neraka, berporos pada kalimat tauhid ini.
BACA JUGA: Gus Baha Ungkap Rahasia Menghadapi Masalah Hidup, Cukup Yakin dan Jangan Merasa Kuasa
Gus Baha juga mengkritik perdebatan teknis mengenai bidah yang sering memicu perpecahan.
Menurutnya, sangat tidak logis jika kalimat yang mampu mengislamkan orang dalam sekejap justru dianggap sebagai penyebab kekafiran hanya karena dibaca di tempat tertentu.
Menghadapi pemikiran ateisme, Gus Baha menggunakan logika Wajibil Wujud. Keberadaan alam yang nyata mustahil muncul dari ketiadaan.
Ia mengajak umat untuk menikmati “nikmat batin” dengan selalu merasa dalam pengawasan Allah.
Dengan memahami bahwa kematian hanyalah perpindahan untuk menyaksikan keagungan Tuhan secara lebih nyata, seorang mukmin dapat menjalani hidup dengan tenang dan penuh rida.






