KLIRONG, Beritakebumen.com – Seorang petani inspiratif asal Desa Tanggulangin, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, membuktikan bahwa keterbatasan kondisi geografis bukan menjadi penghalang untuk meraih kesuksesan di sektor pertanian.
Slamet, nama petani tersebut, berhasil membudidayakan varietas cabai lokal Medan di lahan pesisir yang sejatinya memiliki karakteristik berbeda dengan habitat asli tanaman tersebut.
Langkah berani ini diambil Slamet karena varietas cabai lokal Medan dikenal memiliki daya tahan yang luar biasa.
BACA JUGA: Sulap Galon Bekas Jadi Kebun Cabai Rawit Melimpah, Begini Cara Rahasianya!
Tanaman ini terbukti tangguh menghadapi ancaman virus gemini yang menyebabkan keriting daun, serta toleran terhadap penyakit patek yang sering menjadi momok bagi para petani.
Selain daya tahannya, produktivitas yang tinggi menjadi alasan utama Slamet memilih varietas ini untuk dikembangkan di desanya.
Adaptasi Dataran Rendah yang Memukau
Secara umum, cabai lokal Medan direkomendasikan untuk tumbuh di dataran tinggi dengan ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut (MDPL).
Namun, melalui ketekunan dan pengelolaan lahan yang tepat, Slamet berhasil menjinakkan tantangan alam di pesisir Kebumen yang ketinggiannya berada di bawah 10 MDPL.
Hasilnya pun sangat memuaskan. Tanaman cabai di lahan milik Slamet tumbuh subur hingga mencapai ketinggian sejajar orang dewasa.
Buah cabai yang dihasilkan tampak sangat lebat, menandakan kesuksesan proses adaptasi tanaman terhadap lingkungan dataran rendah yang cenderung panas.
Inovasi Sistem Tumpang Sari
Dalam menjalankan budidaya perdananya ini, Slamet menerapkan sistem tumpang sari. Ia menanam cabai berdampingan dengan tanaman tomat.
Strategi ini diterapkan untuk mengoptimalkan penggunaan lahan sekaligus menciptakan sumber pendapatan berkelanjutan.
“Tomat dipilih karena masa pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan cabai. Sambil menunggu cabai berbuah, tomat dapat lebih dahulu dipanen,” ujarnya.
Saat ini, terdapat sekitar 1.700 batang pohon cabai lokal Medan yang tumbuh di lahan milik Slamet.
Potensi Panen Mencapai 1,7 Ton
Dengan estimasi hasil satu kilogram cabai per satu batang pohon dalam satu siklus hidup, total panen yang akan diraih Slamet diperkirakan mencapai 1,7 ton.
BACA JUGA: Sulap Lahan Hutan Jadi Cuan, Petani Tirtomoyo Sukses Raup Rupiah dari Budidaya Lada
Angka ini merupakan capaian yang sangat menjanjikan bagi petani di wilayah Klirong yang baru pertama kali mencoba varietas tersebut.
Slamet mengakui bahwa budidaya ini memang memiliki tantangan tersendiri atau “gampang-gampang susah.”
Namun, ia menekankan bahwa kunci utama dari keberhasilan menanam cabai gunung di tanah pasir pesisir adalah pada faktor pengelolaan lahan yang maksimal.
Inovasi yang dilakukan oleh Slamet diharapkan dapat menjadi contoh bagi petani lain untuk lebih berani mencoba varietas baru dan memaksimalkan potensi lahan yang ada, meskipun kondisi lingkungannya terlihat menantang.






